Script Voice Over

224

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Beberapa waktu yang lalu saya melihat ada kesempatan kerja freelancer di fiverr. Sebuah aplikasi web dan mobile yang mempertemukan freelancer sebagai seller, dan para pengguna jasa freelancer atau customer.

Well, menarik. Lantas saya menemukan salah satu kosakata baru, yaitu gig. Gig adalah hal yang freelancer bisa tawarkan ke customer. Saya tertarik untuk memulai dengan gig voice over berikut.

Selamat datang di Indonesia. Sebuah negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari 17 ribu pulau, 34 provinsi, dan 1300-an suku bangsa.

Anda akan dibuat terpesona dengan keanekaragaman budayanya. Keramahannya. Dan, keindahan alamnya.

Welcome to Indonesia. The biggest archipelago country in the world consists of 17 thousand islands, 34 provinces, and 1300 ethnic groups.

You will be fascinated with the diversity of culture. The Kindness. And, the beauty of nature.

Silakan kunjungi fiverr gig baru saya di sini.

Siapa berani?

Kalideres, 23 November 2021

6 KAMPUS DI INDONESIA DENGAN JURUSAN KULIAH ‘DATA SCIENCE’

Tantangan Menulis Hari ke-169

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Ilustrasi belajar data – Foto dokumentasi dari IYKRA

Tidak dapat dipungkiri bahwa data merupakan salah satu aset yang sangat vital pada zaman now. Setiap insan, kelompok, dan organisasi dari kecil sampai besar mulai menyadari bahwa data mampu mengefisienkan kendali mereka dalam mencapai tujuan.

Oleh sebab itu, mereka mulai rajin mengumpulkan data. Mencari tool yang tepat guna. Dan, pada akhirnya, mereka butuh orang kepercayaan yang paham tentang data.

Namun, tantangan untuk mengkristalkan data itu besar dan beragam.

Apa saja? Ada yang datanya kotor alias amburadul. Kurang lengkap. Beragamnya tools yang ada untuk mengolahnya, sehingga bingung pilih yang mana. Sampai pada masalah sumber daya manusia yang belum memiliki kompetensi data science yang mumpuni.

Well, kita pahami pelan-pelan yuk, mengenai apa itu data science, dan mengapa mesti belajar bidang yang lagi naik daun ini.

Apa itu Data Science?

Data science merupakan bidang ilmu gabungan yang meliputi statistika, ilmu komputer, dan bisnis. Buat yang pengin tahu lebih dalam, monggo cek video berikut ini, atau tengok kursus daring Udemy bertajuk Data Science Foundation di sini.

Mengapa Mesti belajar data science?

Seperti yang tertulis di buku Lima Dasar Data Science untuk pemula, ada tiga hal utama yang mendasari mengapa setiap pekerja di era digital ini minimal memiliki kemampuan dasar data science.

Pertama, data yang tersedia di dunia ini makin besar, kecepatan produksinya tinggi dan bahkan cenderung eksplosif. Kedua, orang yang mengerti cara pengolahan data banyak dicari perusahaan-perusahaan. Ketiga, komputer dan server semakin terjangkau, sehingga penelitian maupun pekerjaan terkait data yang memerlukan komputasi yang besar dapat cepat tertangani.

Alasan Belajar Data Science – Sumber dari sini.

Bagaimana cara menjadi data scientist?

Ada dua jalur. Jalur formal dan informal. Jalur formal bisa lewat univeristas. Sedangkan jalur non formal bisa mengikuti bootcamp atau pelatihan non formal, seperti kelas-kelas data yang sering diadakan di IYKRA.

Khusus untuk artikel ini kita akan bahas yang jalur formal, ya!

Universitas mana saja yang saat ini membuka jurusan Data Science (S1)?

Seolah gayung bersambut, beberapa kampus di Indonesia baik negeri maupun swasta sudah mulai membuka jurusan Data Science alias Ilmu data atau Sains Data. Universitas mana saja yang sudah membuka jurusan ini?

Pertama, Universitas Airlangga, Surabaya.

Gedung Kampus C Unair – Sumber Foto dari sini.

Program S1 ini dinamakan Teknologi Sains Data. Memiliki durasi belajar 4 tahun atau 8 semester. Adapun yang menjadi syarat adalah lulusan SMA IPA dan SMK yang relevan. Tempat belajar kalian akan berlokasi di Kampus C Unair, Mulyorejo, Surabaya. Program ini di bawah Fakultas Sekolah Teknologi Maju dan Multidisiplin. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa kunjungi laman berikut.

Kedua, Institut Pertanian Bogor

Image
Gedung Kampus FMIPA – IPB. Sumber Foto dari sini.

Program S1 Statistika dan Sains Data di IPB ini di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Menurut laman berikut, program ini sudah dibuka sejak tahun 2020.

Ketiga, Institut Teknologi Sumatera

Kampus Insitut Teknologi Sumatera – Provinsi Lampung – Sumber foto pribadi penulis.

Program studi Sains Data di Itera ini memiliki visi menjadi program studi yang unggul, bermartabat, dan diakui dunia untuk mendukung visi ITERA mengembangkan potensi Sumater di era industri 4.0. Kalian bisa lihat kurikulumnya di laman berikut.

Wah, saya jadi nostalgia masa kuliah di ITB dengan adanya TPB (Tahun Pertama Bersama). Kepanjangannnya agak berbeda sedikit dengan TPB versi ITB: Tahap Persiapan Bersama.

Keempat, Universitas Nusa Mandiri

program studi sains data universitas nusa mandiri
Logo Universitas Nusa Mandiri – Program Studi Sains Data – Sumber foto dari sini.

Lain halnya dengan tiga universitas sebelumnya, universitas ini merupakan universitas swasta. UNM yang sebelumnya berstatus STMIK ini memiliki jurusan Sains Data langsung di bawah nanungan Fakultas Teknologi Informasi. Cocok untuk kalian yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Selengkapnya, silakan kunjungi laman ini.

Kelima, Universitas Teknologi Yogyakarta

Biaya Kuliah Universitas Teknologi Yogyakarta Tahun 2021-2022 - Kuliah  Kelas Karyawan S1 S2
Gedung Kampus Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) – Sumber foto dari sini.

Universitas swasta lainnya di Indonesia yang membuka program sarjana Data Science adalah UTY. Program studi ini memiliki visi menjadi program studi yang terkemuka di bidang analisis data untuk industri 4.0, berkarakter serta berwawasan global pada tahun 2024 di Indonesia. Silakan kunjungi laman ini untuk informasi lebih lanjut.

Keenam, Bina Nusantara University

Kampus Anggrek – Binus University – Sumber foto dari sini.

Di bawah naungan School of Computer Science Bina Nusantara University, Binus menghadirkan program yang dapat diselesaikan dalam rentang 3,5 hingga 4 tahun. Adapun visi jurusan ini adalah sebagai program studi S1 Data science kelas dunia, sebagai bentuk pendekatan interdisiplin agar dapat menciptakan solusi berbasis kemasyaratan. Lebih lanjut, Anda bisa mengunjungi laman berikut.


Sejauh ini, baru enam universitas tersebut yang membuka jurusan Data Science. Saya yakin akan ada banyak lagi universitas yang membuka jurusan serupa. Dalam tahun-tahun mendatang.

Ada update atau masukan? Silakan tulis di kolom komentar, ya!

Kalideres, 19 September 2021

INDONESIA, PALING DERMAWAN SEDUNIA TAHUN 2021

Tantangan Menulis Hari ke-81 Batch Kedua

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Tidak banyak yang menyangka bahwa di saat kesulitan ekonomi yang melanda dunia akibat Covid-19, lembaga Charities Aid Foundation atau CAF menempatkan negara kita sebagai bangsa paling dermawan sedunia pada 2021. Berita ini dilansir Kompas pada 17 Juni 2021.

World Giving Index (WGI) 2021 ini dipublikasikan oleh CAF pada Senin 14 Juni 2021. Skor Indonesia naik 10 angka dari 59% ke 69% sejak 2018. Hasil detail dapat Anda telisik di sini.

Ilustrasi bersumber dari: https://www.cafonline.org/about-us/publications/2021-publications/caf-world-giving-index-2021

Bagi para data scientist, yang menarik untuk ditelusuri adalah metodologi dan ramuan yang membentuk skor tersebut. Sementara itu bagi khalayak, pastinya kepo dengan fenomena Indonesia. Kok bisa jadi nomor satu? Apa yang menjadi alasan negara-negara maju seperti AS, Inggris, Kanada, Irlandia, dan Belanda yang biasanya masuk 10 besar tidak bertengger di sana lagi?

Well, WGI diukur dengan cara melakukan survei. CAF menyebarkan kuesioner ke masyarakat di sejumlah daerah, termasuk wilayah desa-desa. Berapa jumlah responden-nya? Ada 1000 kuesioner per negara.

Ramuan dari skor itu apa saja? Ada tiga pertanyaan yang jadi ingredients-nya. Pertama adalah apakah Anda telah membantu orang tidak dikenal tahun ini? Kedua, apakah Anda mendonasikan uang untuk keperluan amal? Apakah Anda merelakan waktu Anda dalam suatu organisasi charity?

Lantas, kok skor kedermawanan negara-negara maju turun drastis? Usut punya usut, hal ini akibat dari angka kematian Covid-19 sangat tinggi, sedangkan angka kematian akibat Covid-19 di negara berkembang relatif rendah. Meskipun, banyak yang sangsi, termasuk saya, bahwa angka kematian yang terkumpul di negara kita bisa saja di bawah representasi aslinya.

Dengan angka kematian akibat Covid-19, terutama di negara maju, pemerintah memastikan perlunya pembatasan wilayah. Imbasnya apa? Mereka sulit untuk melakukan kegiatan amal.

Selain itu, dugaan lainnya adalah pemerintah-pemerintah di negara kaya sudah menyalurkan donasi kepada yang membutuhkan. Semacam social program kalau di Kanada. Atau Social Security di Amerika Serikat.

Yang nggak kerja dan kurang mampu sudah mendapatkan sumbangan dari government.

Sementara itu di Indonesia, selain karena solidaritas dan perintah agama, lingkungan digital juga memudahkan orang untuk membantu. Tinggal transfer atau scan QRIS. Beres! Di samping itu, besar kemungkinan kita menyadari belum adanya sistem social program yang konsisten, kuat, dan cukup lama seperti yang dilakukan pemerintah di negara maju, membuat kita mudah merasa iba.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah beramal tahun ini?

Kalideres, 19 Juni 2021

SELEKSI

Tantangan Menulis Hari ke-77

Oleh Bernardus Ari Kuncoro

Kemarin saya membaca beberapa tajuk utama di surat kabar. Salah satunya adalah tentang pengumuman hasil SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di harian Kompas. Seolah nostalgia 17 tahun lampau, yang saat itu namanya SPMB, saya ingin mengkristalkan tiga makna berikut.

Seperti yang Anda tahu, persiapan ujian untuk masuk PTN merupakan kegiatan yang sangat menyita waktu dan energi. Banyak teman seangkatan saya yang memandang ujian itu menentukan garis hidup. Kalau diminta mengulangi, rasanya akan sulit sekali.

  1. Fokus. Kelas 3 SMA (sekarang kelas 12) memang masa-masanya konsentrasi belajar. Tiga kali seminggu sehabis kegiatan belajar mengajar di sekolah, saya dan teman-teman belajar di Bimbel. Saya pilih Ganesha Operation yang berlokasi di seberang stadion Kridosono Yogyakarta. Saat itu saya berjuang keras sampai berkali-kali ikut try out. Kegiatan ekskul yang pada kelas 1 dan 2 saya tekuni, saya eliminasi.
  2. Memiliki plan B. Jika tidak berhasil SPMB saat itu, saya punya rencana lain. Puji Tuhan kala itu saya sudah diterima di UGM di jurusan yang sama. Namun, insting saya pengin mencoba kota yang baru. Kala itu impian saya adalah kota Bandung. Yang notabene dingin. Sejuk. Dan, banyak pemandangan.
  3. Lifelong learning. Diterima kuliah di PTN bukan jaminan kesuksesan. Itu barulah awal. Apalagi, setelah menjalani lini masa kehidupan dengan segala dinamikanya, ilmu yang didapat selama kuliah mesti diolah, didiskusikan dan terus diperbaharui. Punya rasa ‘haus’ dan banyak membaca itu kuncinya.

Buat yang sudah lulus SBMPTN, selamat! Anda telah dibukakan pintu jejaring pertemanan. Terkadang juga ada yang sampai menjadi sahabat sejati. Yang tak lupa terus menyemangati.

Tetap rendah hati. Tetapi juga jangan rendah diri.

Dari produk lulusan SPMB 2004.

Kalideres, 15 Juni 2021

Bagaimana Pola Perubahan Mobilitas Masyarakat sebelum dan selama Pandemi COVID-19?

Beberapa hari lagi, tepatnya tanggal 24 April 2020, saya akan membawakan materi di webinar IYKRA. Temanya adalah Analisis Perubahan Mobilitas Masyarakat selama Pandemi COVID-19.

Berdasarkan Data PHEOC Kemkes, per 13 April 2020 Indonesia sudah tercatat sedikitnya 4.557 kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan 399 kasus meninggal dan 380 kasus sembuh. Diperkirakan akan tetap naik lagi dari hari ke hari. Ada yang memprediksi eksponensial seperti di Amerika Serikat, atau Sigmoid seperti di Tiongkok.

Continue reading “Bagaimana Pola Perubahan Mobilitas Masyarakat sebelum dan selama Pandemi COVID-19?”

Asian Games 2018 – Opening Ceremony

Well, today is January 1, 2019. A new beginning. A new hope.

I am very excited to do something cool this year. Yeah, planning, learning, teaching! Repeat!

One of my motivation supplement is watching the inspirational videos via YouTube, especially from the figures or moments that inspire me to do something more useful, while we’re healthy – mentally and physically.

Continue reading “Asian Games 2018 – Opening Ceremony”

Menimba Ilmu di Tech in Asia PDC 2017

Pada tanggal 9 dan 10 Agustus 2017 lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Tech in Asia Product Development Conference 2017 (TIA PDC 2017) yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta. Perusahaan tempat saya bekerja membelikan tiket untuk saya, sehingga kesempatan ini saya gunakan sebaik-baiknya untuk membuka wawasan tentang teknologi terkini yang diaplikasikan beberapa perusahaan-perusahaan start-up di Indonesia.

Acara ini mengetengahkan sesi-sesi bicara yang dibagi langsung menjadi beberapa topik. Ada topik tentang User Interface (UI) / User Experience (UX), Product Management, Web Development, Mobile Apps Development, Cloud Infrastructure, Data Analytics, dan Special topic. Masing-masing topik sudah dibagi sedemikian rupa di masing-masing ruangan, sehingga para pengunjung bisa memilih topik mana yang menarik. Saya kebanyakan memilih topik tentang cloud and infrastructure di hari pertama dan tentunya, data analytics di hari kedua. Selain sesi-sesi bicara, beberapa booth memamerkan produk-produk dan layanan-layanan digital yang patut untuk diperhitungkan di masa depan sebagai perusahaan besar Indonesia, seperti Kudo, Bukalapak, Bang Joni, 3Dolphins, Doku, Jubelio, Kofera, dll.

Berikut ini adalah daftar sesi speech yang saya ikuti di hari pertama.

10:30: Serverless: the Future of Software Architecture
By: Jason Wihardja, Software Architect Bizzy Indonesia.
Kurang lebih, Jason berbicara tentang arsitektur software yang saat ini bisa sangat mudah dan cepat dilakukan dengan cloud. Dia memberikan demo cara membuat email server yang serverless dengan memanfaatkan layanan Amazon Web Service (AWS). Tidak ada yang baru dari speech ini menurut saya, karena topik ini sebenarnya bisa dengan mudah dicari di internet. Namun, key take away dari speech ini adalah definisi dari serverless. Serverless merupakan salah satu bentuk layanan yang posisinya di antara PaaS (Platform as a Service) dan Software as a Service (SaaS), di mana layer aplikasi masih dimanage oleh Anda sebagai engineer. (Lihat slide 5 dan 6). Slide-nya bisa didownload di sini.

11:15: Functional Programming in a nutshell 
By: Adityo Pratomo, Chief Academic Officer Froyo Framework.

Alasan saya ikut ini adalah karena Didit merupakan kawan saya di Elektro ITB 2004. Lumayan lama saya tidak ketemu, tetapi saya sering keep in touch dengannya di FB dan Twitter. Well, topiknya menurut saya sangat teoretis ke ilmu komputer. Yap, as seen in the title: Functional Programming. Yang saya ingat dari penjelasannya, Didit memberikan analogi cara membuat mi rebus dengan membandingkan antara imperative programming dengan functional programming. Functional programming ini memiliki beberapa keuntungan yaitu meminimalisasi error debugging dan memudahkan untuk melakukan unit test, akan tetapi kelemahannya adalah susahnya digunakan dalam pemrograman yang memiliki state, yang biasa dipakai dalam pembuatan aplikasi game. Well said, Dit. Slide-nya bisa didownload di sini.

13:30: How Tiket.com manage 200++ servers with one engineer.
By: Natali Ardianto, CTO & Co-Founder Tiket.com.
Yap, tidak diragukan lagi, Natali merupakan bintang pembicara saya di hari pertama TIA PDC 2017. Semangatnya luar biasa dalam berbicara. Keren, runtut, dan lancar sekali membawakan presentasinya. Jujur saja, setiap slide yang dia punya, ada aja cerita yang menarik untuk disimak. Nggak salah to, setelah saya baca profilnya, banyak sekali penghargaan yang dia dapatkan. Intinya dia menjelaskan setiap tools yang dipakai dalam Tiket.com untuk mendukung infrastruktur IT. Baik infrastruktur on premise maupun cloud. Sayang sekali slide nya tidak bisa saya download karena memang tidak di-share di slido.

Natali, CTO of Tiket.com speaking at TIA PDC 2017
Natali, CTO of Tiket.com speaking at TIA PDC 2017

Yang paling saya ingat, Natali sebagai CTO Tiket.com berpesan agar para audience untuk tetap konsisten ngoprek. Sebagai CTO dia harus tahu apa yang anak buahnya kerjakan. Supaya tahu, ya dengan ngoprek itulah. Dia juga bercerita bahwa timnya membangun Tiket.com dari nol, sehingga sangat merasakan bagaimana harus memilih tool-tool agar tidak membebani cost. Perhitungan dilakukan dengan teliti dan seksama.

14:00 Saya tidak ikut lagi, mesti mengerjakan beberapa tugas kantor. Thanks to colokan listrik yang tersedia di samping stand orang jualan makanan dan wifi gratis. 😀

Di hari kedua, saya mengikuti sesi data analytics. Nah ini dia, sesuai dan pas dengan bidang yang saya geluti.

13:30 Data Science to Solve Business Challenge
By: Lourencius Christian Angkasa. Head of Data, VP of Kudo.
Cerita sedikit OOT, saya sampai di Balai Kartini sangat “in time”, sehingga masuk ke ruangan agak terlambat. Presentasi sudah dimulai sekitar 10 menit dan saya tidak kebagian tempat duduk. Penuh banget yang nonton. Oiya, bagi yang belum tahu Kudo itu apa, bisa dilihat websitenya di sini. Lourencius bercerita tentang bagaimana data Kudo itu datang, disimpan, diproses, dibikin data mart, dan dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga bisa digunakan. Dia juga berbagi pengalaman mengenai hambatan-hambatan yang dihadapi di Kudo dan bagaimana cara mengatasinya. Jargon yang saya ingat adalah PPT (People, Process, and Technology). Sayangnya, slide nya tidak bisa diunduh di slido seperti yang dibilangin sama host-nya.

14:15 Making Data Actionable,
By: Budiman Rusly, Head of Data Analytics KMK Online
Terus terang saya agak kurang tertarik dengan topik ini, karena yang dibicarakan adalah rule of thumb yang sebenarnya bisa dicari di buku. Apa saja itu rule of thumb untuk membuat data itu actionable? Budi menjelaskan tiga langkah Mulai dari sketch and visualize data, berkomunikasi efektif dengan data, dan understanding data and chart. Urutannya agak kurang pas menurut saya. Namun, saya dapat informasi bahwa yang Budi bicarakan di sini berasal dari dua referensi buku yang sepertinya layak untuk dibaca. Buku yang dimaksud adalah Beautiful Evidence karya Edward Tufte dan Now You See It karya Stephen Few. Slide bisa diunduh di sini.

15:00 Planning Your Analytics Implementation,
By Bachtiar Rifai, CEO of Kofera Technology
Tidak jauh beda dengan presentasi sebelumnya, saya agak kurang tertarik dengan presentasi ini. Bachtiar menjelaskan teori bagaimana membuat rencana analitik. Sebenarnya inti dari presentasi ini adalah kita harus mulailah mengolah data, meskipun dengan use case yang sederhana. Di tengah-tengah presentasi saya beli cappucino, mungkin karena mata saya sudah lelah.

15:45 Building Data Foundations and Analytics Tools Across The Product,
by Crystal Widjaja, VP of Business Intelligence GO-JEK
Balik lagi ke ruangan dengan semangat membara setelah minum capuccino.
Well, awalnya saya kira Crystal ini adalah seorang laki-laki. Tetapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri, dia ternyata adalah seorang perempuan. Umurnya masih muda dan terlihat sangat techy. Sepanjang presentasi dia mampu memberikan penjelasan yang menurut saya, amat sangat mumpuni dan membumi untuk bidang Business Intelligence yang biasanya didominasi kaum Adam. Yap, pembicara Crystal menjadi bintang saya hari ini. Slide lengkapnya bisa diunduh di sini.

crystal speaking at TIA PDC 2017
Crystal, VP of Business Intelligence at GO-JEK speaking at TIA PDC 2017

Crystal mengawali presentasinya dengan bercerita tentang dirinya. Ia mulanya direkrut pada 2015 sebagai orang data pertama oleh GO-JEK. Di awal masa kerjanya, dia mengerjakan data dictionary yang tabel referensinya tidak ada. Sebuah pekerjaan yang menurutnya agak membosankan. Di masa itu pula sering sekali pula investor melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada GO-JEK, yang menuntut query data yang sulit dan bahkan lama. Infrastrukturnya belum memadahi kala itu. Ditambah lagi, masing-masing divisi memiliki definisi yang berbeda-beda mengenai parameter-parameter yang ditanyakan. Khusus untuk ini, dia mencontohkan pertanyaan yang sederhana: Berapa jumlah driver GO-JEK yang full time. Dalam best practice nya, untuk menjawab pertanyaan tersebut tim BI memberikan factual data sheet. Tentang definisi siapa itu driver GO-JEK yang full time, terserah mereka yang akan memanfaatkan data, tim BI tidak turut campur untuk berdebat.

Kembali lagi masalah infrastruktur data, dia dan tim berpikir untuk membuat layer-layer atau stack-stack yang diperlukan agar bisa scalable. Kurang lebih apa yang dipresentasikan Crystal sama dengan Natali, yaitu dia berbagi tool-tool apa yang digunakan di Gojek. Hanya saja, tool-tool yang disharing oleh Crystal tentu saja tool-tool untuk Business Intelligence, sedangkan Natali adalah tentang Infrastruktur IT baik di on premise maupun di cloud. Tool yang saya ingat untuk menyelesaikan pertanyaan yang membutuhkan data faktual adalah “metabase”. Sebuah tool open source yang memungkinkan pengguna bisa login dan swa-layan untuk ambil data.

Saat ini Crystal membawahi 30 Business Analyst dan 4 orang Data Engineer. Di sesi tanya jawab, Crystal juga bilang bahwa alasan dia kembali ke Indonesia adalah karena Indonesia masih memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Well itu dia oleh-oleh ilmu dari Tech in Asia. Overall acaranya sangat bagus. Pintar-pintar kita pilih pembicara dan topik yang bagus agar waktu kita tidak sia-sia. Jika mentok Anda tidak memiliki ketertarikan dari berbagai sesi speech, Anda tinggal keluar dan lihat-lihat beberapa booth yang dipamerkan. Waktu itu saya tertarik melihat 3dolphins dan BJTech (Chatbot system).
Note: Di kesempatan ini saya tidak sengaja bertemu dengan dua kawan kuliah saya seangkatan: Nantha dan Arif (Elektro ITB angkatan 2004) yang kebetulan hadir dengan dibiayai oleh perusahaan masing-masing. Kami sempat makan siang bareng di hari itu. 

Mengerikan! Ada Hampir 100 juta Sepeda Motor di Indonesia

Kendaraan merupakan hal esensial yang diperlukan oleh manusia modern saat ini sebagai alat transportasi. Bagi negara Indonesia yang notabene masih berkembang, sepeda motor menjadi pilihan primadona masyarakatnya. Selain harganya yang murah, motor sangat efisien dalam hal konsumsi bahan bakar maupun kemampuannya dalam menembus kemacetan yang sering terjadi di kota besar.

Sepeda Motor di Indonesia
Sumber Gambar: Kompasiana

Berdasarkan data yang dihimpun dengan metode pendaftaran yang didapat dari Kantor Kepolisian, pada tahun 2014, ada 93 juta sepeda motor, 12,5 juta mobil penumpang, 6,2 juta mobil barang, dan 2,4 juta mobil bus. Hanya dalam kurun waktu 10 tahun saja sejak tahun 2004, jumlah sepeda motor mengalami kenaikan hingga hampir 4 kali lipat. Prediksi tahun 2015 (mengingat data belum tersedia), ada 100 juta unit sepeda motor. Dan pada tahun 2016, diperkirakan ada 108 juta unit sepeda motor. Banyak sekali, ya? Hiiii… ngeri.

Sumber data untuk grafik: http://data.go.id/dataset/jumlah-kendaraan-bermotor-unit

Menemani isteri Ujian Video, Shortcase, dan UDOT

Sungguh suatu pengalaman yang tidak dapat dinilai harganya menjadi suami seorang dokter yang sedang hamil tua, yang sedang berjuang untuk mendapatkan kesempatan program adaptasi setelah susah payah (baca: lama dan ribet) menjalani pendidikan spesialis di negara tetangga. Banyak hal yang saya pelajari dari isteri saya yang selama satu bulan kemarin (Agustus-September 2015) mempersiapkan diri belajar di rumah. Tidak menyalakan TV sesering dulu. Berjuang membaca puluhan buku-buku terbitan American Association of Ophthalmology dan beberapa buku yang harganya tidak murah. Semua itu dipersiapkan untuk menghadapi ujian Video, shortcase, dan UDOT.

Continue reading “Menemani isteri Ujian Video, Shortcase, dan UDOT”