KONTEMPLASI DAN REFLEKSI

Tantangan Menulis Hari ke-20

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

#puisi #lirik #lagu

Berjalan dalam kesunyian

Mencari arti ketenteraman

Berusaha hidup bermakna

Agar selaras antara jiwa dan raga

*

Harapan kadang tak sejalan

Dengan kenyataan yang ada

Mesti cakap dan t’rus menggali

Apakah yang dijalani sesuai visi misi

*

Reffren

Kontemplasi kan setiap hari

Dan refleksikan diri ini

Dekatkan jurang pemisah antara perkataan dan perbuatan

*

Closing

Yang nampak di luar

Dan asli di dalam hati

Sebaiknya tak jauh berbeda

*

Kalideres, 19 April 2021

AMBISI DAN MOTIVASI

Tantangan Menulis Hari Ke-17 Batch Kedua

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Ada sebuah pepatah dari Salvador Dali berbunyi demikian. “Kecerdasan tanpa ambisi, laksana seekor burung tanpa sayap.

Tetapi ada juga ungkapan dari seorang kawan yang berujar, “Jangan berambisi terlalu tinggi, lah! Nanti sakit, kalau jatuh.”

Merujuk KBBI, ambisi merupakan keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi atau memperoleh atau mencapai sesuatu atau melakukan sesuatu. Sedangkan berambisi memiliki arti berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dan sebagainya), atau mempunyai ambisi. Ambisius juga memiliki makna yang sama dengan berambisi, yakni berkeinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita), atau penuh ambisi.

Namun, penggunaan kata ambisius di percakapan sehari-hari, terlebih di Indonesia, lebih bermakna negatif. Why? Karena seringkali orang yang dianggap ambisius memiliki sifat yang mementingkan diri sendiri di atas kepentingan bersama.

Contoh pengalaman saya adalah sebagai berikut.

Belasan tahun silam, saat masih menjadi mahasiswa S1 di Ganesha 10, saya pernah dikomentari oleh seorang teman sebagai sosok yang ambisius. Saya ingat betul, dan merenungkan perkataan itu. Hingga pada suatu titik, ujaran itu ada benarnya juga. Saya pakai sebagai rem. Kalau ngegas dan tegas terus mengejar ambisi ya mblandhang. Bisa jadi sakit tipes. Dirawat di Borromeus. Haha.

Sekarang saya sedikit demi sedikit paham. Bahwa ambisi itu memang perlu. Namun, dalam kadar tertentu yang sebaiknya disesuaikan dengan kapasitas dan waktu.

Lanjut. Jika Anda coba mendalami dan merujuk idenya Mas Simon Senek dari buku populernya Start With Why, apa sih motivasi yang membuat seseorang mengejar ambisi?

Menurut buku Kesehatan Psikososial karya Prof Johana E. Prawitasari dan Edward Theodorus yang bisa dipesan di sini, motivasi yang melandasi ambisi terbagi menjadi dua kategori. Apa itu? Motivasi yang bersifat destruktif dan konstruktif. Yang bersifat destruktif ini ragamnya ada empat, yaitu mencari perhatian, pamer kekuatan, balas dendam, dan membuktikan tidak mampu. Sedangkan yang merupakan motivasi konstruktif adalah berdasarkan kemaslahatan bersama.

Mengapa Anda berambisi? Motivasi yang manakah yang cocok dengan Anda saat ini?

Untuk direnungkan. Saya juga masih belajar.

Kalideres, 16 April 2021

JEJAK HIDUP

Tantangan Menulis Hari ke-206

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Tiap manusia memiliki titi wanci yang berbeda-beda. Ada yang baru lahir. Sekolah. Lulus kuliah dan memulai karir. Ada yang menikah muda. Memiliki anak. Dan, ada pula yang telah mencapai usia pensiun.

Dari segi pola pikir, juga variatif. Ada yang memandang risiko itu sebagai kesempatan. Ada yang sebaliknya. Mesti dihindari. Ada yang menganggap orang baru sebagai ancaman. Sebaliknya, ada yang menganggapnya sebagai kawan. 

Jejak-jejak kehidupan sekelompok orang yang hidup bersama dan saling mengenal pastinya memiliki banyak cerita. Ada cinta. Cerita tentang kebersamaan. Sekaligus ada gesekan. Konflik besar maupun kecil dapat pula terjadi. Menambah marak kehidupan laksana bianglala yang berputar.

Ada juga lho yang merasa kehidupan itu ibarat panggung pentas yang diperlihatkan dengan sempurna. Biar orang menganggap baik. Padahal di belakang layar penuh dengan kesukaran. 

Berbahagialah yang masih bisa jujur dan terbuka. Karena Anda tidak perlu membuat panggung sandiwara. Capek lah. Mau hidup di depan orang jadinya wajib make up-an dan pakai kostum sesuai arahan sutradara. Seperti aktor dan aktris aja.  

Selamat beristirahat. Semoga Anda selalu sehat!

BIASA UNTUK TIDAK BIASA

Tantangan Menulis Hari ke-205

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sabtu pagi ini langit masih gelap. Matahari malu-malu menampakkan sinarnya. 

Kala itu pukul tujuh lebih lima. Agaknya musim hujan masih belum beranjak dari bulan kedua. Sampai-sampai berita hari ini mengabarkan bahwa beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya dilanda banjir. Turut prihatin. Semoga segera surut, sehingga para warga bisa dengan mudah beraktivitas. 

Sementara itu aku bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Membuang sampah. Masak dan cuci piring, karena kali ini giliranku. 

Di dalam kulkas tersedia pumpkin atau labu oranye, buncis, dan sawi putih. Aku buat sebagai sayur berkuah. Empat telur kugoreng dadar. Lengkap dengan nasi dan daging sapi semur lauk kemarin yang masih tersisa di kulkas juga selesai kubuat. 

Sabtu pukul sembilan pagi ini aku ikut suatu kelas pendiri. Berisi orang-orang yang punya macam-macam mimpi. Dengan berbagai variasi motivasi. Entah untuk eksistensi, memenuhi pundi-pundi atau merengkuh panggilan diri. Disampaikan di dalamnya bahwa untuk menjadi seorang pendiri, dibutuhkan mental baja dan berani. Visi besar dan target harus jelas. Supaya tidak terlindas. Bisa berkelanjutan. Kalau tidak kuat ya sudah. Drop out saja. 

Lihatlah nanti beberapa bulan ke depan. Apakah aku bisa biasa untuk tidak biasa?

Biarlah jika Tuhan memperkenankan. Terjadilah apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku sih berusaha saja yang terbaik. Karena yang akan menikmatinya adalah orang-orang yang mau mengubah jalan hidupnya menjadi lebih rapih dan ciamik. 

Kalideres, 20 Februari 2021