JEJAK HIDUP

Tantangan Menulis Hari ke-206

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Tiap manusia memiliki titi wanci yang berbeda-beda. Ada yang baru lahir. Sekolah. Lulus kuliah dan memulai karir. Ada yang menikah muda. Memiliki anak. Dan, ada pula yang telah mencapai usia pensiun.

Dari segi pola pikir, juga variatif. Ada yang memandang risiko itu sebagai kesempatan. Ada yang sebaliknya. Mesti dihindari. Ada yang menganggap orang baru sebagai ancaman. Sebaliknya, ada yang menganggapnya sebagai kawan. 

Jejak-jejak kehidupan sekelompok orang yang hidup bersama dan saling mengenal pastinya memiliki banyak cerita. Ada cinta. Cerita tentang kebersamaan. Sekaligus ada gesekan. Konflik besar maupun kecil dapat pula terjadi. Menambah marak kehidupan laksana bianglala yang berputar.

Ada juga lho yang merasa kehidupan itu ibarat panggung pentas yang diperlihatkan dengan sempurna. Biar orang menganggap baik. Padahal di belakang layar penuh dengan kesukaran. 

Berbahagialah yang masih bisa jujur dan terbuka. Karena Anda tidak perlu membuat panggung sandiwara. Capek lah. Mau hidup di depan orang jadinya wajib make up-an dan pakai kostum sesuai arahan sutradara. Seperti aktor dan aktris aja.  

Selamat beristirahat. Semoga Anda selalu sehat!

BIASA UNTUK TIDAK BIASA

Tantangan Menulis Hari ke-205

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sabtu pagi ini langit masih gelap. Matahari malu-malu menampakkan sinarnya. 

Kala itu pukul tujuh lebih lima. Agaknya musim hujan masih belum beranjak dari bulan kedua. Sampai-sampai berita hari ini mengabarkan bahwa beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya dilanda banjir. Turut prihatin. Semoga segera surut, sehingga para warga bisa dengan mudah beraktivitas. 

Sementara itu aku bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Membuang sampah. Masak dan cuci piring, karena kali ini giliranku. 

Di dalam kulkas tersedia pumpkin atau labu oranye, buncis, dan sawi putih. Aku buat sebagai sayur berkuah. Empat telur kugoreng dadar. Lengkap dengan nasi dan daging sapi semur lauk kemarin yang masih tersisa di kulkas juga selesai kubuat. 

Sabtu pukul sembilan pagi ini aku ikut suatu kelas pendiri. Berisi orang-orang yang punya macam-macam mimpi. Dengan berbagai variasi motivasi. Entah untuk eksistensi, memenuhi pundi-pundi atau merengkuh panggilan diri. Disampaikan di dalamnya bahwa untuk menjadi seorang pendiri, dibutuhkan mental baja dan berani. Visi besar dan target harus jelas. Supaya tidak terlindas. Bisa berkelanjutan. Kalau tidak kuat ya sudah. Drop out saja. 

Lihatlah nanti beberapa bulan ke depan. Apakah aku bisa biasa untuk tidak biasa?

Biarlah jika Tuhan memperkenankan. Terjadilah apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku sih berusaha saja yang terbaik. Karena yang akan menikmatinya adalah orang-orang yang mau mengubah jalan hidupnya menjadi lebih rapih dan ciamik. 

Kalideres, 20 Februari 2021

KASIH YANG SEJATI

Tantangan Menulis Hari ke-199

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro 

Begitu besar kasih Tuhan. Sangat memesona. Mengantarku pada suatu renungan. Kok bisa ya? Jangan-jangan aku cuma Ge Er.

Tetapi makin aku kontemplasikan. Makin mengarah pada garis-garis yang bermuara pada sumber kehidupan. Yang punya urip. Supaya murup. Menerangi. Memancarkan kirana yang tak pernah padam. Merajut tanpa henti memberi arti.

Senin ini ada ibadah 7 hari papa mertua. Semua bersaksi akan kerendahan hatinya. Kebersahajaannya dalam pelayanan. Dalam menggereja dan memimpin lembaga pendidikan.

Tidak sedikit pula yang bersaksi bahwa ini hidup ini hanya transisi. Mengarah pada suatu tempat yang abadi. Bersama Sang empunya Kasih sejati.

Salam penuh arti seluas samudera dan setinggi bintang di langit.

Sugeng dalu. 

Kalideres, 15 Februari 2021

RABU ABU UNTUK PAPA

Tantangan Menulis Hari ke-194

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro 

Rabu abu. Kok ya pas, ya? Hari ini jenazah papa mertuaku dikremasi. Sesuai permintaan beliau, jika nanti ‘berpulang’, maunya demikian.

Ingat sekali aku di masa-masa kritisnya, saat aku mengantar beliau ke rumah sakit pada 15 Januari 2021. Gas dan rem aku orkestrasikan agar lekas sampai tujuan. Jumat itu kutinggalkan tugas-tugas dan pekerjaan. 

Sejak saat itu segala upaya kami lakukan. Pada 16 Januari pindah rumah sakit. Tempat yang rutin beliau biasa pakai untuk hemodialisa. Namun malam harinya tidak bisa pulang. Harus rawat inap. 

Sejak saat itu situasi makin sulit diprediksi. Aku ambil bagian menjaga ananda di rumah,  sebagai pemasok dan pengambil makanan serta pakaian bagi mama dan istri. Mengapa? Mengingat mereka beristirahat di hotel seberang rumah sakit dengan alasan praktis. Kalau-kalau dipanggil perawat, ya tinggal nyeberang. 

Dalam perawatannya di rumah sakit, papa sempat keluar masuk ICU 2 kali. Bahkan sempat dinyatakan bisa pulang pada 31 Januari, namun hanya semalam saja di rumah. Keesokan harinya pada 1 Februari, beliau kembali lagi berjuang di ICU. Keluhan sesak napas.

Siang itu pukul dua belas. Seorang driver dari Ukrida, Pak Ferry, datang untuk mengantar kembali ke RS dan membawa tabung oksigen. 

Semalam di rumah sakit. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, karena hanya dikabarin lewat WA oleh istri.

Singkat cerita dini hari pada 2 Februari 2021 ventilator dipasang.

Masih ada kesempatan. Dari hari ke hari, kata tim dokter ada trend tanda-tanda perbaikan. Namun kami keluarga tidak bisa berbuat apa-apa lagi pada Senin 8 Februari 2021. Kadar Hb drop tiba-tiba dan mesti dipacu jantungnya.

Beliau berpulang pada tanggal tersebut pada pukul 3. 

Rabu itu, hari ketiga setelah beliau wafat, tepat pukul tiga pula, papa menjadi abu. Seperti awal mula Tuhan menciptakan manusia. 

Terima kasih papa, semoga nyanyian Saved by Grace tadi menyenangkanmu. Aku akan terus jaga kekasih-kekasih hatimu: mama, anakmu, dan cucumu. 

Sugeng tindak. 

Kalideres, 10 Februari 2021

YANG TELAH PERGI

Tantangan Menulis Hari ke-194

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

*

Seperti baru kemarin 

Aku bertemu pertama kali dengan beliau

Deg deg ser

Seperti ada sesuatu yang mau mencengkeram 

Karena beliau di pucuk pimpinan

Sementara aku hanya pemuda yang bermodal keberanian 

Untuk meminang putri bungsunya pada suatu bulan di 2012

*

Yang aku tahu beliau suka belajar 

Terlihat dari buku-buku yang dikoleksi di lemari 

Ratusan.

Bahkan mungkin ribuan.

Membuat ku terinspirasi 

Menulis 

Membaca 

Berkarya

Untuk khalayak.

*

Selamat jalan, Papa

Dalam langkahmu menghampiri surga

Ada keyakinanku yang kuat

Pasti ada tempat yang terbaik untukmu

Bersama Tuhan Yesus yang kau cintai

*

Istirahatlah dalam damai. 

*

Kalideres, 9 Februari 2021 

KESEMBUHAN

Tantangan Menulis Hari ke-191

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sakit. Siapa yang tidak pernah merasakannya? Jarang, ya! Sebagian besar dari Anda pasti pernah mengalami. Setidaknya sakit yang ringan. Misal sariawan akibat gigi nakal menggigit lidah atau bibir ketika makan. Kalau bapak ibu guru sedang bertugas mengajar pasti merasa kurang nyaman dalam berbicara. Lho kok malah curhat?* 

Bicara tentang penyembuhan, dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu, 7 Februari 2021 ini Romo membacakan Injil dengan kisah tentang ibu mertua Simon yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Pada masa-masa itulah Dia bekerja. Membuat mukjizat. Sedemikian sehingga dicari banyak orang yang membutuhkan. 

Di sela-sela bekerja, Yesus dikisahkan pada pagi-pagi hari berdoa. Dalam hal ini pula Tuhan mengajarkan agar tempat berdoa sebaiknya merupakan lokasi yang mendukung. Maksudnya yang layak ini adalah tempat dengan suasana sepi. Sunyi. Supaya bisa berkonsentrasi. Tidak perlu dilihat orang banyak. Karena yang jadi aktor adalah si pendoa dan Tuhan. Tidak perlu orang ketiga dan kesekian. Makanya sering orang menyebut saat berdoa ini adalah saat teduh. Setelah ‘pepanasan’. Waktu yang intim untuk membuka hati dan menenangkan diri. 

Misal, Anda saat ini sedang sakit. Supaya sembuh bagaimana? Jangan lupa berdoa. Kepada yang Anda percaya sebagai Maha Pengasih. Tetapi jangan hanya itu saja. Berusahalah. Mencari pertolongan. Yakinlah bahwa Tuhan sudah menyediakan orang-orang atau siapa saja yang akan menolong. Dan, kalau sudah ditolong, ya, jangan ngeyelNggresulo. Atau malah cari-cari alasan untuk tidak mematuhi nasihat yang jelas-jelas terbukti menyehatkan. Sudah tahu kolesterol tinggi, tetapi malah makan daging kambing sepiring. 

Aku doakan, bagi yang sedang sakit, semoga lekas sembuh dan dipulihkan. 

Bagi yang sehat, tetap jaga kesehatan dan semoga makin bugar. 

*Penulis saat ini sedang pemulihan sariawan akibat tidak sengaja sela-sela giginya menjepit lidah waktu selilitan. Tolong jangan ditirukan. Nanti Anda jadi ikut-ikutan. 

Semoga besok sudah sembuh dan mudah berbicara. 

Kalideres, 7 Februari 2021

GENETIKA BAHAGIA

Tantangan Menulis Hari ke-189

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sebuah podcast aku dengarkan. Sambil menyetrika baju dan celana. Di dalam rerungon* tersebut topik bahagia didiskusikan. Seringkali ada saja yang menarik untuk direnungkan dan dipahami dalam hati.

Tahukah Anda, bahwa kebahagiaan diri itu dipengaruhi oleh tiga faktor utama? Faktor pertama adalah genetika. Kedua Intentional activities. Yang terakhir adalah life circumstances. (Lyubormisky, 2006). 

Ternyata, yang menduduki urutan pertama sebagai faktor penentu kebahagiaan adalah genetika. Ada sebesar 50% bobotnya. Jika penelitian ini benar, maka kebahagiaan Anda sebagian besar ditentukan oleh nenek moyang Anda. Coba Anda resapi. Apakah bapak dan ibu Anda memang demikian sifatnya? Kalau mereka sering murung, apakah Anda juga suka murung? Sebaliknya kalau mereka suka senyum, apakah Anda juga orangnya memancarkan sinar dan rona bahagia? 

Buat yang pendahulunya kurang bahagia, jangan kecil hati. Untungnya masih ada dua faktor lain yang lumayan bisa diatur. Intentional activities (40%) yang bisa dilakukan dengan berkegiatan seperti berolah raga, berperilaku ramah, berderma, dan menemukan purpose. Terakhir, hanya 10% ini ditentukan oleh beberapa hal seperti umur, pendapatan, pendidikan, sex, dll. 

Aku masih takjub dengan bobot faktor keturunan yang sedemikian besarnya. Coba Anda lihat urutan bobot dari ketiga faktor dari sebuah pie chart berikut.

Sepertinya harus belajar banyak dari anakku. Setiap hari ada saja yang membuat dia tertawa. Mengajak saya main dan ceria. Tiada sebab musabab. 

Tetap sehat ya, Nak! 

Kalideres, 5 Februari 2021

Image result for happiness determined by genetics
Yang menentukan Kebahagiaan. Sumber dari sini.

*rerungon adalah suara-suara yang bisa didengarkan seperti musik, podcast, radio, dsb.

KESADARAN AKAN KESABARAN

Tantangan Menulis Hari ke-187

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sadar. Kosakata ini makin banyak dipakai akhir-akhir ini. Banyak yang mulai bermeditasi atau mengolah napas agar bisa mencapai mindfulness. Tahu diri akan kapasitas masing-masing. Mengerti benar apa kelebihan dan kekurangan diri. Sehingga bisa mencocokkan apa yang bisa diberi. Atau apa yang layak diterima dalam sanubari. Dulu, kegiatan meditasi ini sering aku lakukan ketika mau mulai pentas teater saat ikut ekskul di SMA. Prep namanya. Alias preparation untuk menjalani suatu karakter. 

Sementara itu ada satu kata lain yang punya arti mendalam. Coba anda ganti huruf d menjadi b. Jadilah kata ‘sadar’ bertransformasi ke ‘sabar’. Terminologi ini sering dipakai untuk menasihati individu atau kelompok manusia yang sedang marah. Bisa karena kurang suka dengan keadaan saat itu. Bosan dengan di rumah saja. Harus cari suasana baru, tetapi pandemi belum berlalu. Atau kejadian yang diinginkan tidak sesuai angan. Antara harapan dan realita tidak bertemu. Jadi, sing sabar. 

Anda pernah merasa kesal? Lalu menyesal. Coba Anda lebih sabar. Lalu baru Anda sadar.

Bagaimana jika kondisinya dibalik? 

Anda selalu sadar bahwa Anda harus sabar. Agar tidak menyesal. Sehingga Anda tidak perlu marah.

Anda pilih keadaan yang pertama atau yang kedua?

Well, permainan kata-kata itu mudah. Pelaksanaannya? Jangan lagi ditanya. Sulit, Bung!

Lantas bagaimana? Kesadaran akan kesabaran itu perlu dilatih. Agar nanti tidak mudah tertatih. 

Dari yang selalu belajar untuk memilih keadaan yang kedua. Bukan menjadi yang kedua. Emangnya judul lagu?

Kalideres, 3 Februari 2021

VIRUS KESEPIAN YANG TAK TERHINDARKAN

Tantangan Menulis Hari ke-184

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Besok sudah tanggal satu. Beranjak dari bulan Januari, menuju bulan yang lumrahnya disebut sebagai bulan cinta. Namun, PPKM (Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat) mendorong sebagian besar masyarakat perkotaan untuk tetap tinggal di rumah masing-masing. Menjaga jarak fisik. Mencegah terjadinya infeksi. Meskipun beberapa sudah diinjeksi vaksin Sinovac, prokes masih harus terus dijalani. 

Hal yang tidak kalah ngerinya selain virus Korona adalah adalah virus kesepian. Namun, hal itu agaknya menjadi prioritas yang kesekian. Aku tidak membayangkan bagaimana jadinya jika aku mengalami masa pandemi ini saat masih bujangan. Betapa sulitnya. Mau bertemu teman-teman atau pujaan hati akan banyak protokolnya. Karena sekarang sudah berkeluarga, anak baru satu dan berusia lima, jarang sekali bahkan tidak ada yang mengajak nongkrong. Lingkaran pertemanan yang lama kelamaan makin bisa dihitung dengan jari sudah sangat tahu diri. Kondisi pandemi masih terjadi. Risiko sebaiknya dihindari. Apalagi demi orang-orang yang disayangi. 

Well, ada salah satu artikel di Kompas hari ini yang ditulis oleh Mas Anton Kurnia. Judulnya Isoman dan Virus Kesepian. Aku terinspirasi dan mengambil istilah itu dalam tulisan ini. Artikel tersebut menitikberatkan kepada yang menjalani isoman. Pilu. Sendu. Tidak ngapa-ngapain selain makan, ke kamar mandi, dan turu. Jika ada gitar sesekali genjrang genjreng. Jika ada internet bisa menjelajah dunia maya yang makin lama makin bias. Ah sudahlah. Jalani saja hari-hari. Live the life. Enjoy reduce the strife. 

Kalideres, 31 Januari 2021

7 SKILL YANG PALING DICARI DI TAHUN 2021

Tantangan Menulis Hari ke-182

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Senja mulai menghampiri hari. Corak langit berubah dari biru menjadi jingga. Matahari menampakkan refleksinya dan siap bersembunyi di bawah samudera. Tanda insan dunia mesti jeda. Beristirahat untuk mengisi kembali tenaga. Mengingat sudah dikerahkan sepanjang hari dengan sepenuh jiwa dan raga.

Dalam kegiatanku sore ini, aku meluangkan waktu sekitar 30 menit. Mencatat salah satu video berfaedah dari sebuah website detik. Salah satu program khususnya adalah dMentor. Mengetengahkan topik yang menggugah pikiran hibernasi. Memvariasikan hal yang terlalu repetitif dan mengurung kreasi.

Cukup ngegombal recehnya, bung!

Salah satu catatan di Sublime Text menginspirasiku untuk menulis hal ini. Tujuh skill yang paling dibutuhkan di tahun 2021.

  1. influencing people (persuasive skill)
  2. copywriting
  3. closing skill
  4. time management skill
  5. multi tasking skill
  6. leadership and effective communication
  7. people skill and collaboration

Aku sedikit mengernyitkan dahi terutama untuk yang nomor 3. Closing skill. Opo iki maksude? Bukan keahlian ‘menutup’ pintu atau menutup buku lantas membuka lembaran baru lah, ya?

Teringat dulu waktu aku duduk di sebuah kursi kerja saat sebagai karyawan di salah satu perusahaan. Beberapa meter dari aku duduk, seorang General Manager ngobrolin tentang closing closing closing. Baru aku sadar bahwa yang dimaksud closing skill ini adalah menutup penjualan. Alias bisa ‘dodolan’*. Transaksi berhasil. PO (Purchase Order) sukses.

Sukses selalu untuk Anda! Semoga jualannya cuan!

*Dodolan dalam bahasa Jawa berarti jualan.

Kalideres, 29 Januari 2021