HUJAN HUJAN HUJAN

hujan

Tantangan Menulis Hari ke-161

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Jumat menjelang siang. Habis meeting dengan kolega-kolega IYKRA dan membantu masak kentang goreng sambel ati, aku melanjutkan pekerjaan. Di depan desktop ‘buah apel’ sambil ditemani oleh ananda. Kuputar lagu buatan sendiri mengiringi pekerjaan, berjudul “Hujan Hujan Hujan”.

Hujan Hujan Hujan

Dari sebuah music distributor tempat aku unggah lagu, DistroKid, ternyata ada hal menarik. Mereka menyediakan alat bantu promosi yang cukup kece. Di sana aku tinggal pilih lagu apa, langsung ter-generate poster yang bisa IG Story Friendly. Ini dia hasilnya.

Gambar promosi lagu terbaru

Cakep, ya? Masih banyak pilihan yang lain mulai dari CD, tema api, kamera, dll.

Ngomong-ngomong tentang lagu, anakku paling anti dengan lagu Hujan Hujan Hujan ini. Mengapa? Karena dia masih beranggapan bahwa hujan yang datang ini disebabkan oleh pemutaran lagu ini. Meskipun dia pernah membaca buku Magic School Bus yang salah satunya menceritakan proses hujan, dia mungkin masih belum paham bahwa hujan itu ada siklusnya. Kalau lagu dimainkan pada musim kemarau, ya… bukan itu penyebabnya. Bisa jadi pada musim hujan berkorelasi, tetapi bukanlah kausatif.

Begini percakapan kami.

Kiran: “Papa, please don’t play that song!

Aku: “Why, dear?

Kiran: “I don’t want it to be banjir. If it is banjir, we cannot go outside!”

Dan hujan masih melanda siang itu.

Kalideres, 8 Januari 2021