TANAMKAN ENAM LITERASI DASAR INI AGAR KEHIDUPAN ANAK ANDA BERKUALITAS

Tantangan Menulis Hari ke-164

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

girl sitting while reading book
Membaca sebagai salah satu literasi yang paling umum (Sumber foto dari sini)

Agar anak Anda memiliki hidup yang bermutu, sebagai orang tua mesti membekali anak-anak dengan enam literasi berikut.

Apa saja?

Pertama adalah literasi membaca dan menulis. Jika sang anak memiliki kemudahan dalam mengolah dan menyajikan informasi berupa teks, maka dia akan dengan sigap memahami dan menyikapi perubahan dalam tatanan kehidupan yang sekarang ini banyak disajikan dalam bentuk tertulis.

Kedua adalah literasi numerasi. Anak dapat mengenali dan mampu memahami informasi berupa angka-angka dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga adalah literasi sains. Mengapa hal ini perlu? Karena dengan kemampuan ini, anak-anak bisa memiliki pemahaman dan kemampuan menjelaskan tentang fenomena-fenomena ilmiah baik alam maupun sosial.

Keempat adalah literasi digital. Dengan adanya berbagai macam media digital dan alat komunikasi, tentunya setiap pribadi disadarkan agar mampu menggunakannya dengan bijak. Kemampuan tersebut menjadi salah satu tolak ukur agar tidak ketinggalan informasi.

Kelima, literasi budaya. Identitas seorang anak sebagai orang Indonesia mesti ditanamkan agar mampu memahami dan sekaligus memiliki kebanggaan akan identitas budaya Indonesia.

Keenam, literasi keuangan. Seorang anak yang memiliki literasi ini akan bisa mampu mengelola keuangan untuk dirinya sendiri. Di saat dewasa kelak, diharapkan dia bukan menjadi pribadi yang terlalu boros, maupun terlalu pelit. Hihi.

Apa saja literasi yang sudah Anda ajarkan kepada anak Anda?

Inspirasi dari sini.

Kalideres, 2021

KETIDURAN

Tantangan Menulis Hari ke-128

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Malam menjelang. Maghrib lebih tepatnya. Saya melihat anak saya nggelesot tengkurep di lantai, sambil memegang spidol kuning di atas buku mewarnai. Sementara saya masih ada pekerjaan yang mesti diselesaikan di depan komputer. Melakukan follow up terhadap evaluasi salah satu pelatihan perusahaan.

Sesekali saya menelisik sambil berbisik. “Kiran, Kiran… are you sleeping?” tanya saya. Sambil kudekati, dia hanya melek dan bereaksi sedikit. “Hmmmmm yeeeee.” Jawabnya merengek. “I think you are very tired.”

Beberapa menit kemudian, setelah selesai urusan pekerjaan. Sata menggendongnya. Memindahkannya ke tempat tidur.

***

Pukul setengah delapan malam. Saya terbangun. Tak disangka saya tertidur selama sejam saat menidurkan anak saya.

Ternyata saya ketiduran.

Kalideres, 5 Agustus 2021

MENGGAMBAR SAMBIL BERNYANYI

Tantangan Menulis Hari ke-103

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Waktu kecil, saya pernah diajari oleh seorang guru. Bernyanyi demikian sambil memegang pensil dan menggambar.

lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar

diberi pisang, diberi pisang, lalu dimakan

enam, enam, tiga puluh enam

enam, enam, diberi sudut.

Lagu lingkaran kecil lingkaran Besar

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah?

Hmm… tiba-tiba dalam pikiran saya, terhenyak beberapa baris angka-angka berikut.

3 3 3 0 1 8 (tiga tiga tiga kosong… satu delapan)

3 3 3 0 1 8 (tiga tiga tiga kosong… satu delapan)

3 3 3 0 1 8 (tiga tiga tiga kosong… satu delapan)

1 7 1 = 3 bunga (satu tujuh satu sama dengan tiga bunga)

Penasaran dengan hasilnya?

Coba dikreasikan. Sudah ada clue nya di akhir lirik.

Kalideres, 11 Juli 2021

BERNYANYI BERSAMA ANAK TERCINTA

Tantangan Menulis Hari Ke-66

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Banyak yang bilang, bernyanyi itu membuat hati gembira. Kalau dipikir-pikir ada benarnya. Ada juga salahnya.

Coba kalau Anda menyanyikan lagu sedih seperti ini? Apakah bikin hati Anda gembira? Kadang malah termehek-mehek makin sedih dan menyayat hati.

Lain halnya kalau lebih spesifik. Bernyanyi dengan riang. Lagu yang dibawakan happy. Tentunya bikin suasana hati lebih enak. Bahkan makin semangat untuk menjalani hari.

Well, beberapa waktu lalu saya mendampingi anak saya belajar bernyanyi. Dia bernyanyi. Saya sambil bermain gitar.

Jangan Anda bayangkan les vokal, ya! Ini hanya nyanyi-nyanyi secara informal saja. Supaya bisa menyemarakkan suasana ketika parenting.

Rekamannya sudah sejak satu setengah tahun yang lalu. Hihi.

Coba dengarkan. Lagu apa ini?

Kalideres, 4 Juni 2021

HUJAN HUJAN HUJAN

hujan

Tantangan Menulis Hari ke-161

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Jumat menjelang siang. Habis meeting dengan kolega-kolega IYKRA dan membantu masak kentang goreng sambel ati, aku melanjutkan pekerjaan. Di depan desktop ‘buah apel’ sambil ditemani oleh ananda. Kuputar lagu buatan sendiri mengiringi pekerjaan, berjudul “Hujan Hujan Hujan”.

Hujan Hujan Hujan

Dari sebuah music distributor tempat aku unggah lagu, DistroKid, ternyata ada hal menarik. Mereka menyediakan alat bantu promosi yang cukup kece. Di sana aku tinggal pilih lagu apa, langsung ter-generate poster yang bisa IG Story Friendly. Ini dia hasilnya.

Gambar promosi lagu terbaru

Cakep, ya? Masih banyak pilihan yang lain mulai dari CD, tema api, kamera, dll.

Ngomong-ngomong tentang lagu, anakku paling anti dengan lagu Hujan Hujan Hujan ini. Mengapa? Karena dia masih beranggapan bahwa hujan yang datang ini disebabkan oleh pemutaran lagu ini. Meskipun dia pernah membaca buku Magic School Bus yang salah satunya menceritakan proses hujan, dia mungkin masih belum paham bahwa hujan itu ada siklusnya. Kalau lagu dimainkan pada musim kemarau, ya… bukan itu penyebabnya. Bisa jadi pada musim hujan berkorelasi, tetapi bukanlah kausatif.

Begini percakapan kami.

Kiran: “Papa, please don’t play that song!

Aku: “Why, dear?

Kiran: “I don’t want it to be banjir. If it is banjir, we cannot go outside!”

Dan hujan masih melanda siang itu.

Kalideres, 8 Januari 2021