BUAH DARI SEMANGAT YANG KONSISTEN

Tantangan Menulis Hari ke-151

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Tiga hari lagi 2020 berakhir. Kurang dari 72 jam tepatnya. Beragam cerita tercipta. Mulai dari cerita takut, sedih, bahkan gembira.

Bertepatan dengan itu pula hari kelulusan tim Data Fellowship Batch 4 terprogram di sebuah layanan Zoom meeting. Buat yang kepo tentang program Data Fellowship, bisa dikunjungi tautan detailnya di sini.

Pukul 10.30 hingga 12.00 jadwal acaranya. Kemarin saya mengiyakan untuk join, tetapi ternyata saya baru ingat ada keperluan lain yang sulit untuk ditinggalkan. Alih-alih pidato secara LIVE, saya siapkan sebuah video, takut kendala koneksi. Videonya berisi sebuah pesan berformula. Tentunya bukan 44. Karena ini bukan iklan obat batuk, ya sobat!

Formula yang saya jadikan inspirasi adalah formula compounding interest. Dalam bahasa Indonesia berarti rumus bunga majemuk. Variabel yang ada di dalamnya adalah H(t) atau hasil akhir. M atau modal, yang terdiri dari Ma (modal awal), Mt (modal tambahan), dan d (distraksi). Variabel p atau power / kekuatan internal alias semangat. Dan t adalah waktu atau interval waktu yang ditentukan.

H(t) = M(1+p)t

di mana M = Ma + Mt - d

Asumsi variabel p atau kekuatan semangat adalah berapa persen jumlah jam yang bisa dialokasikan dalam sehari (misalkan 4 jam sehari), maka kekuatan semangat Anda adalah 4/24 jam. Sehingga p=0.25. Nilai Ma = 1 (modal pendidikan dasar, kuliah, pengalaman kerja sebelumnya). Mt = 0.5 di mana angka ini diisi dengan kursus, seminar, saya kasih contoh modal ini adalah modal ikut program Data fellowship. Sedangkan d = 0.1 adalah distraksi atau faktor yang mengalihkan dunia Anda dalam mencapai hasil akhir. Seperti mulut netizen yang nyelekit, gaming, socmed, dan semacamnya.

Coba bikin grafik antara H (y axis) dan t (x axis). Hasilnya akan jadi eksponensial. Jika kekuatan semangat nol, maka hasil akhir akan sama dengan modal. Tidak ada pertumbuhan. Jika kekuatan semangatmu konsisten, maka hasil akhir nya akan terus bertambah.

Penjelasan singkat saya sepanjang 5 menit dapat dilihat di video ini.

Selamat menikmati.

Kalideres, 29 Desember 2020

AGAR NYINYIR JADI NGACIR

Tantangan Menulis Hari ke-145

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

“Eh, elo tu harusnya kayak gini, lho! Lo tahu apa sih, masih newbie. Mimpi kali, ye!”

Pernahkah Anda dikomentari demikian? Kalau itu dilakukan oleh orang yang Anda respect, bisa jadi Anda keder. Lantas mager alias males gerak. Merasa tertekan, padahal belum mulai merajut mimpi. 

Aku pernah mendapati komentar tersebut. Untungnya yang memberikan komentar bukan orang yang aku kenal dekat, sehingga kejadian detail tidak aku ingat. Mengapa begitu? Alasannya satu. Nanti jadi ‘long tail’ alias ekor panjang. Bisa-bisa modal yang udah dibangun mulai dari waktu, uang, tenaga, dan semacamnya bisa tekor. Berat, bro. Bawa ekor, tuh! Masalah hidup saja sudah berat, apalagi ditambah ekor. 

Seringkali orang lain dengan mudahnya menghakimi apa yang kita dilakukan dengan caranya masing-masing. Bedain ya, dengan mentor yang memang sincere untuk memberikan nasihat untuk kebaikan Anda. Ini upayanya menjatuhkan. 

Lantas, cara menghadapi nyinyiran bagaimana? Berdasarkan intisari cerita Alkitab tentang perempuan yang akan dihakimi (Yoh 8:7), Anda dapat menerapkannya demikian. Setiap kali Anda mau mulai berkata atau menulis sesuatu, periksa batin diri sendiri dulu. Berkaca dulu apa yang sudah Anda lakukan. Lakukan sebaiknya secara rutin. Lantas, kenali lawan bicara. Jikalau orang-orang yang diajak bicara ini khalayak umum yang bermacam-macam latar belakang, set the bar pembicaraannya dengan bahasa yang mudah diterima. Pakai kosakata yang mudah dipahami. Agar tidak terlalu ketinggian. Latihan. Kembangkan. Kalau perlu belajar bahasa mereka. Atau mulai dengan pertanyaan dengan topik yang relevan.

Kalau masih saja anda kena nyinyiran, tidak usah balas dengan hal yang sama. Diamkan saja. Inilah saatnya kata mutiara diam itu emas dapat Anda praktikkan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar. Belajar untuk menerima. Belajar untuk bersyukur. Belajar untuk berusaha menggapai mimpi yang besar. 

Yakinlah, bahwa ada minimal satu orang dari tujuh milyar jiwa yang hidup di bumi ini punya rasa percaya bahwa mimpi Anda akan jadi kenyataan. Biarkan yang nyinyir jadi ngacir. Supaya Anda nggak jadi orang kenthir

*Catatan: Kenthir merupakan sebuah kata dalam bahasa Jawa yang sering diartikan sebagai gila atau edan. Dalam hal ini penulis ingin menyesuaikan dengan rima nyinyir dan ngacir. Itu saja. Tidak lebih. Hihi.

Kalideres, 23 Desember 2020

Tiga S: Senyum, Senang, dan S….!

Menulis adalah kesukaan saya. Menulis lagu, menulis pengalaman seru, dan menulis kode (programming). Lewat menulis pula, secara tidak disengaja saya diperkenalkan dengan seorang pembaca blog saya yang membantu mendapatkan pekerjaan pertama saya setelah lulus sarjana 6 tahun lalu. Lewat pekerjaan tersebut saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota di luar negeri seperti Dhaka (Bangladesh), Bangkok, Singapura, dan bahkan sempat menetap di Manila, Filipina selama 3 tahun. Walaupun utamanya untuk bekerja, di sela-sela kesibukan kerja, saya memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan dan bersosialisasi. Itung-itung jalan-jalan keluar negeri gratis. Dapat teman baru. Pengalaman baru. Inspirasi baru.
Continue reading “Tiga S: Senyum, Senang, dan S….!”