Malam Mingguan di Rumah Sakit

Hari ini 2 Maret 2019. Hari Sabtu. Malam hari. Waktu menunjukkan pukul 7.29. Sudah malam ketiga aku berada di dalam ruangan ini. Ruangan di mana anakku dirawat. Di sebuah rumah sakit yang sama dan sudah ketiga kalinya dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini.

 

Kiran. Anakku satu-satunya (ya, saat ini baru satu, mau nambah mikir-mikir lagi) mengalami penyakit pneumonia. Sumbernya bakteri. Mungkin ini nama yang menakutkan buat orang awam. Tapi sebenernya bahasa awamnya kalau orang jawa bilang gejalanya mirip dengan masuk angin.

Kronologi dan gejala yang dialami anak sebagai berikut:

Senin – Tidak demam. Ceria. Pilek hanya saat malam hari.
Selasa – Pilek. Ingus diminta dikeluarkan, e malah disentrup (dihirup). Batuk-batuk mulai ada, pagi masih ceria, sorenya demam (s.d. 38.5 derajat), mulai muntah-muntah.
Rabu – Batuk dan muntah-muntah berlanjut. Muntahnya langsung setelah dia minum susu dan batuk-batuk. Pilek masih juga. Tidur susah. Tiap kali diberi susu muntah. Sprei sampai habis dicuci.
Kamis – Pagi hari terus muntah-muntah setelah diberi intake. Artinya ya tidak ada intake sama sekali setelah 16 jam. Kita bawa ke IGD. Pagi itu, dia diberi infus, diberi glukosa, mengingat gula darahnya 45 (normal anak kecil 100-an). Tidur lama dari jam 1 siang s.d. jam 6 sore. Setelah itu anak sudah bisa senyum-senyum. Istri tidak menemani menginap malam ini karena flu berat.
Jumat – Sudah ceria, muntah-muntah sedikit setelah dinebu, tapi disertai diare (s.d. 4-5x). Istri juga tidak menginap, masih sakit.
Sabtu – harusnya bisa pulang, tapi sorenya anak muntah habis diberi susu.
Akhirnya malam minggu ini masih di dalam kamar rumah sakit. Menunggu observasi apakah anak sudah bisa keluar dari RS keesokan harinya.

Well, kalau para data scientist mendefinisikan problem statement, maka aku pun coba bikin ya,

Persoalan utama:
Anak susah makan. Hanya mau makanan berbahan cokelat. Anak hanya mau minum susu saja.

Target:
Anak harus bisa makan, selain cokelat, seperti nasi, sayur, ayam, ikan, jus, dan macam-macam seperti layaknya orang dewasa.

Langkah-langkah usulan:
1. Susu dikurangi
2. Diberikan pengertian pelan-pelan mengenai makanan.
3. Diperkenalkan dengan makan.
4. kalau misalnya lebih dari sekian (x) jam tidak ada intake, kasih susu lagi.

Saya mikirnya sederhana. Kalau seseorang lapar, ya pasti makan. Kalau dia tidak pernah merasakan lapar ya pasti nggak akan makan. Malam ini mudah-mudahan saya diberikan mimpi. Mimpi mendapatkan algoritma bagaimana si Anak bisa makan secara permanen. Tidak hanya sementara. Doakan aku!

Cepat sembuh ya anakku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *