BIASA UNTUK TIDAK BIASA

Tantangan Menulis Hari ke-205

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sabtu pagi ini langit masih gelap. Matahari malu-malu menampakkan sinarnya. 

Kala itu pukul tujuh lebih lima. Agaknya musim hujan masih belum beranjak dari bulan kedua. Sampai-sampai berita hari ini mengabarkan bahwa beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya dilanda banjir. Turut prihatin. Semoga segera surut, sehingga para warga bisa dengan mudah beraktivitas. 

Sementara itu aku bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Membuang sampah. Masak dan cuci piring, karena kali ini giliranku. 

Di dalam kulkas tersedia pumpkin atau labu oranye, buncis, dan sawi putih. Aku buat sebagai sayur berkuah. Empat telur kugoreng dadar. Lengkap dengan nasi dan daging sapi semur lauk kemarin yang masih tersisa di kulkas juga selesai kubuat. 

Sabtu pukul sembilan pagi ini aku ikut suatu kelas pendiri. Berisi orang-orang yang punya macam-macam mimpi. Dengan berbagai variasi motivasi. Entah untuk eksistensi, memenuhi pundi-pundi atau merengkuh panggilan diri. Disampaikan di dalamnya bahwa untuk menjadi seorang pendiri, dibutuhkan mental baja dan berani. Visi besar dan target harus jelas. Supaya tidak terlindas. Bisa berkelanjutan. Kalau tidak kuat ya sudah. Drop out saja. 

Lihatlah nanti beberapa bulan ke depan. Apakah aku bisa biasa untuk tidak biasa?

Biarlah jika Tuhan memperkenankan. Terjadilah apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku sih berusaha saja yang terbaik. Karena yang akan menikmatinya adalah orang-orang yang mau mengubah jalan hidupnya menjadi lebih rapih dan ciamik. 

Kalideres, 20 Februari 2021

Wanna support me?

Follow by Email
LinkedIn
Share