MENGGAMBAR SAMBIL BERNYANYI

Tantangan Menulis Hari ke-103

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Waktu kecil, saya pernah diajari oleh seorang guru. Bernyanyi demikian sambil memegang pensil dan menggambar.

lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar

diberi pisang, diberi pisang, lalu dimakan

enam, enam, tiga puluh enam

enam, enam, diberi sudut.

Lagu lingkaran kecil lingkaran Besar

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah?

Hmm… tiba-tiba dalam pikiran saya, terhenyak beberapa baris angka-angka berikut.

3 3 3 0 1 8 (tiga tiga tiga kosong… satu delapan)

3 3 3 0 1 8 (tiga tiga tiga kosong… satu delapan)

3 3 3 0 1 8 (tiga tiga tiga kosong… satu delapan)

1 7 1 = 3 bunga (satu tujuh satu sama dengan tiga bunga)

Penasaran dengan hasilnya?

Coba dikreasikan. Sudah ada clue nya di akhir lirik.

Kalideres, 11 Juli 2021

THE GOOD SHEPHERD

Tantangan Menulis Hari Ke-26 Batch Kedua

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Minggu pukul sepuluh pagi pada penghujung bulan April. Anak saya yang saat ini berusia lima mengikuti kegiatan rutin setiap minggunya, yaitu Bina Iman Anak (BIA). Sebuah terminologi yang tergolong baru. Saat saya kecil dulu disebut Sekolah Minggu.

Tema yang diajarkan oleh Kak Arin kali ini adalah tentang Gembala yang Baik. Diambil dari bacaan Injil 25 April 2021, yaitu Yoh 10:11-18. Di akhir sesi sang Kakak memberikan tugas untuk berfoto dengan hewan peliharaannya. Untuk yang tidak punya, bisa ambil foto hewan dari mana saja yang disukai. Nah, karena tidak ada hewan peliharaan dan kebetulan beberapa hari yang lalu saya pernah foto ananda dengan Nori, anjing kesayangan tetangga sebelah, akhirnya saya kirimkan foto itu saja. Hihi.

Malam harinya, kami sekeluarga mengikuti misa untuk anak-anak. Seperti biasa, channel YouTube dari Singapura lah yang menurut saya paling pas untuk kebutuhan ananda. Kotbah Father saat itu sangat menyentuh. Beliau mengangkat tema ‘panggilan’, a.k.a. Vocation. Sebuah ajakan agar pekerjaan yang dilakukan nantinya oleh anak-anak saat dewasa nanti bukan semata-mata untuk mencari uang, tetapi ditekankan pada bagaimana seseorang bisa melayani sesama dengan gembira.

Silakan simak di video berikut. Oiya, di menit 0:30 ada foto ananda sedang memamerkan hasil karyanya mewarnai. So far dia sudah melakukannya rutin setiap minggunya.

Children Sunday Mass Online with Children – 4th Sunday

Menjelang tidur, sebelum menghasilkan tulisan ini, saya membuat lirik lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’, dengan melodi kekinian. Ala-ala band Noah. Kemungkinan akan saya rilis bulan depan (Mei). Saat ini masih sangat mentah untuk lirik dan melodinya. Tinggal mencocokkan antara melodi dan masing-masing suku katanya. Terinspirasi dari Mazmur 23 dan bacaan injil hari ini.

P.S. Ngomong-ngomong, hari ini juga ada peristiwa penting lain. Apa itu? Mobil Toyota Agya putih TRD Sportivo Bensin AT, yang saya beli enam tahun lalu saya jual. Sudah banyak kenangan terjadi di mobil itu. Yes! Hampir 40 jam sebulan pasti ada di dalam mobil itu selama 5 tahun. Hanya saja, tetap mesti saya jual. Dan, mengingat pandemi, saya maunya yang praktis-praktis aja cara jualnya, dan nggak mau repot ketemu banyak orang. Akhirnya, OLX Auto jadi pilihan saya. Pukul 13:00 – 15:15 prosesnya, alias memakan waktu inspeksi 1.5 jam + proses penjualan. Mau tahu di harga berapa? Akan saya bahas di tulisan mendatang.

Sekian. Tuhan memberkati Anda semua.

Kalideres, 25 April 2021

JOGO LENONG

Tantangan Menulis Hari ke-188

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro 

Masa kecil identik dengan kegiatan bermain. Bahkan untuk konteks kekinian, orang dewasa juga bisa saja senang nge-game. Bisa pakai gawai ataupun tanpa alat elektronik pintar. Bisa dengan fisik atau pikiran. Asal jangan heart game alias main hati. Hihi. Nanti kasihan, yang dimainin. Bisa saja jadi dendam. Masuk kasus kriminal. Terus ada yang dipidana dan jadi korban. Hingga putus harapan. Cukup sampai di judul lagu Andra and The Backbone saja.

Buat yang lahir di akhir tahun 80-an atau awal 90-an dan tinggal di desa, aku pernah mengalami masa-masa happy itu. Bermain bersama teman-teman di hamparan halaman. Permainan tradisional. Tanpa listrik. Komputer saja waktu tidak ada. Adanya mesin ketik, merek royal yang didapat dari Bapak untuk keperluan membuat laporan pekerjaannya.  

Kala itu benda-benda yang tersebar di sekitar neighborhood adalah pecahan genteng yang terbuat dari tanah liat. Entah siapa yang menciptakan permainan ini sebelumnya. Kami sering berkumpul dan mengadakan permainan seru yang memiliki padanan dalam Bahasa Inggris, Hide and Seek. Meskipun sepadan, game kearifan lokal ini beda. Si seeker tidak hanya berhitung satu dua tiga sampai sepuluh, namun ada tantangan yang mesti dilaluinya.

Pertama-tama kami membuat lingkaran menggunakan tongkat di atas tanah yang ditulisi nomor satu sampai dengan lima. Lantas para pemain wajib melemparkan pecahan genteng alias ‘gacuk’ tersebut ke arah lingkaran itu. Yang mendapatkan skor paling rendah akan bertugas. Yang harus dia kerjakan adalah menyusun ‘gacuk’ menjadi sebuah menara. Di saat dia menyusun gacuk, anak-anak lainnya sembunyi. Tugas dia bertambah. Tidak hanya sebagai pencari atau seeker, tetapi juga sebagai keeper.

Pada saat itulah si penjaga harus mencari yang sembunyi, sambil menjaga agar menaranya tidak dijatuhkan oleh pemain lain. Pada saat dia menemukan dan melihat teman-temannya yang sembunyi, dia menyebutkan namanya. Lalu si penjaga harus melangkahi menara itu sebagai penanda sah pemain itu sudah ditemukan.

Ada saatnya di mana si penjaga itu komet (baca dengan e pepet, bukan e taling seperti pada kata senja, bukan pena). Keadaan ini biasanya dialami oleh si anak yang gagal menjaga menara atau tidak mau mencari pemain lain yang sembunyi. 

Di situlah serunya. Ada risiko. Kalau mencari terus tetapi menara alias ‘lenong’-nya tidak dijaga, dia akan terus-terusan jadi penjaga.

Dua puluh tahun lebih berlalu. Sudah tidak pernah aku bermain ‘jogo lenong’ bersama teman-teman. Namun, dari permainan ini aku bisa menarik hikmat yang dalam. Untuk bahan permenungan.

Banyak orang mencari-mencari-mencari dan mencari. Entah itu harta, cinta, dan tahta. Tetapi dia lupa bahwa ‘menara’-nya juga butuh dijaga. Gubug yang ada di dalamnya, termasuk kesehatan tubuh, jiwa, dan orang-orang di lingkup keluarganya butuh dirawat. Dirumat. 

Well, kudoakan kamu baik-baik saja. Tanpa kekurangan suatu apa. Amin

Sehat-sehat selalu, ya! 

Kalideres, 4 Februari 2021

BERMAIN MENCARI DONAT

Tantangan Menulis Hari ke-172

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sembirat muka nampak ceria. Tidak terlihat sedih. Tetapi berkali-kali ananda meminta. Agar mamanya pulang dan bisa tidur bersama. Seperti sedia kala. Istriku mesti memenuhi prioritas lain yang lebih tinggi. Menunggui Papa yang sedang berjuang. Melawan sakitnya.

Senin sore itu aku dan ananda di rumah. Sehabis dari berkunjung ke tempat menginap di depan rumah sakit. Setelah membawa serta bahan-bahan pasokan, seperti makanan dan pakaian. Agar yang menunggui papa, yaitu istriku dan mama tidak terlalu kemrungsung. Mereka butuh energi yang prima untuk bisa berpikir waras. Meredakan was-was.

Ada saja tingkahnya yang membuatku heran. Ananda mengajak bermain.

Tak kusangka peraturannya dia sendiri yang buat. Ditunjukkannya tiga donat plastik mainan yang berisi lip balm. Dia memintaku untuk memejamkan mata. Lalu disembunyikannya ketiga donat itu ke dalam suatu tempat yang tidak mudah terlihat. Lalu aku diminta mencari. Mirip permainan mencari telur pada saat Paskah.

Akhirnya dia sendiri yang memberikan clue. Satu di kardus, satu di kotak plastik dekat termos untuk membuat susu, satunya lagi di plastik yang lain.

Kreatif. Inovatif. Pertahankan dan kembangkan ya, Nak!

Kalideres, 19 Januari 2021