VIRUS KESEPIAN YANG TAK TERHINDARKAN

Tantangan Menulis Hari ke-184

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Besok sudah tanggal satu. Beranjak dari bulan Januari, menuju bulan yang lumrahnya disebut sebagai bulan cinta. Namun, PPKM (Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat) mendorong sebagian besar masyarakat perkotaan untuk tetap tinggal di rumah masing-masing. Menjaga jarak fisik. Mencegah terjadinya infeksi. Meskipun beberapa sudah diinjeksi vaksin Sinovac, prokes masih harus terus dijalani. 

Hal yang tidak kalah ngerinya selain virus Korona adalah adalah virus kesepian. Namun, hal itu agaknya menjadi prioritas yang kesekian. Aku tidak membayangkan bagaimana jadinya jika aku mengalami masa pandemi ini saat masih bujangan. Betapa sulitnya. Mau bertemu teman-teman atau pujaan hati akan banyak protokolnya. Karena sekarang sudah berkeluarga, anak baru satu dan berusia lima, jarang sekali bahkan tidak ada yang mengajak nongkrong. Lingkaran pertemanan yang lama kelamaan makin bisa dihitung dengan jari sudah sangat tahu diri. Kondisi pandemi masih terjadi. Risiko sebaiknya dihindari. Apalagi demi orang-orang yang disayangi. 

Well, ada salah satu artikel di Kompas hari ini yang ditulis oleh Mas Anton Kurnia. Judulnya Isoman dan Virus Kesepian. Aku terinspirasi dan mengambil istilah itu dalam tulisan ini. Artikel tersebut menitikberatkan kepada yang menjalani isoman. Pilu. Sendu. Tidak ngapa-ngapain selain makan, ke kamar mandi, dan turu. Jika ada gitar sesekali genjrang genjreng. Jika ada internet bisa menjelajah dunia maya yang makin lama makin bias. Ah sudahlah. Jalani saja hari-hari. Live the life. Enjoy reduce the strife. 

Kalideres, 31 Januari 2021

Wanna support me?

Follow by Email
LinkedIn
Share