OVERVIEW OF RECOMMENDER SYSTEM

The 64th writing challenge

By Bernardus Ari Kuncoro

Suppose you are going to buy a book from a marketplace, Tokopedia. You search “Buku Lima Dasar Data Science.” You will be directed to the following link. I got two products and several related products recommended by the system.

The result of “Buku Lima Dasar Data Science” in Tokopedia

Few days ago, I searched and listened to Kunto Aji and Joseph Vincent song in Spotify. Then today get recommended songs by the system. Most of the songs genre are almost similar. Acoustic pop and soft vocal songs.

My Spotify Playlist recommendation.

Or, on YouTube, few days ago I watched several videos from Stanford about Collaborative Filtering, a video for my home exercise, and OverjoyedChallenge. YouTube recommend for me the followings.

Here the video recommendations that I got on my YouTube account.

Well, what are the algorithm behind this system?

To be continued.

Kalideres, 2 June 2021

TIPS MEMBUAT DAN MERILIS LAGU

Tantangan Menulis Hari Pertama – Batch kedua

Oleh: Bernardus Ari Kuncoro

Sejak kuliah S1, saya mulai berpikir. Bahwa hal-hal yang berbau eksakta, teknik, maupun akademis itu kurang afdol kalau tidak dikawinkan dengan hal-hal yang berbau seni. Rasanya ada saja yang kurang dalam hidup. Bagaikan masakan tanpa garam. Cenderung hambar.

Data Science juga demikian. Pasti kurang nampol kalau hanya saklek pada hal-hal yang berbau algoritmis. Tidak ada yang berbau bisnis. Rasa-rasanya ada yang kurang jikalau serba akademis.

Mengingat kecintaan saya pada dunia musik, saya mulai pelan-pelan menekuni kembali. Terlebih tahun 2020 memanjakan saya dengan berlimpahnya waktu luang. Tidak adanya asisten rumah tangga yang bantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga juga tidak jadi soal.

Sebagai karyawan swasta, sebelum pandemi, saya wajib ngantor secara fisik alias work from office (WFO). Kadang-kadang boleh work from home (WFH) jika diperlukan.

Sejak pandemi sampai detik ini, seluruh karyawan wajib WFH. Awalnya saya kurang terbiasa. Namun, dengan cepat justru saya terima keadaan ini dengan penuh sukacita. Hati kecil saya seperti mendapatkan jawaban dari Tuhan terkait kegelisahan saya dulu saat WFO. Hidup kok gini-gini amat ya. Jika saya kalkulasi, waktu perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya mencapai 80 jam per bulan (4 jam x 5 hari x 4 minggu). Sama artinya dengan saya bekerja dua minggu, dengan asumsi Anda bekerja 40 jam seminggu.

Daripada genjrang-genjreng nggak karuan tanpa hasil, akhirnya saya mulai memberanikan diri secara rutin menciptakan lagu. Satu lagu satu bulan. Hasilnya dapat Anda dengarkan dan nikmati di sini. Kisah-kisah pembuatan lagu juga dapat dibaca di laman ini.

Sesuai judul postingan ini, saya akan berbagi bagaimana cara membuat dan merilis lagu. Disclaimer: ini bisa saja cocok atau tidak cocok untuk Anda. Jadi, ya sesuaikan saja dengan keadaan Anda, ya.

Dalam membuat lagu, saya memegang prinsip bahwa pasti ada pesan atau cerita yang ingin disampaikan. Maka dari itu seringkali hal yang pertama saya lakukan adalah dengan membuat lirik. Lirik yang diungkapkan sebisa mungkin relevan dengan pendengar yang ingin Anda sasar.

Setelah membuat lirik, Anda mulai membubuhkan notasi dan ketukan. Tentunya buatlah yang cocok dengan apa yang akan Anda sampaikan. Kalau lagu sedih, ya bikin agak pelan dan gunakan chord minor. Kalau lagu ceria ya, bikin agak nge-beat dan gunakan chord mayor. Yah, meskipun ada pengecualian untuk lagu-lagu tertentu agar punya keunikan tersendiri.

Setelah sudah tersedia lirik dan melodi, Anda dapat merekamnya di software DAW (Digital Audio Workstation). Kalau saya menggunakan software bawaan Mac, yaitu GarageBand. Sudah sangat cukup, menurut saya. Jangan lupa juga gunakan mic (bisa condensor atau dynamic) dan ruangan yang tidak terlampau berisik.

Setelah selesai membuat rekaman, Anda dapat merilis lagu Anda. Caranya? Anda bisa publish lagu itu lewat music aggregator service seperti Distrokid*, TuneCore**, dan CDBaby. Mereka akan mendistribusikannya ke music digital stores seperti Spotify, iTunes, Apple Music, YouTube Music, Deezer, Amazon Music, dll. Jika tidak mau ke semua platforms, saya sarankan simply masukkan saja ke SoundCloud.

Bagi saya, berkarya itu untuk pemenuhan jiwa. Orang lain suka atau tidak, buat saya tidak jadi soal. Ketimbang ngomel-ngomel atau pikiran dipenuhi oleh hal-hal yang toxic, kan lebih baik bikin hati ini senang dan riang.

Di samping itu, saya percaya bahwa setiap orang memiliki bakat. Tugas saya adalah menemukan bakat itu. Berusaha untuk mengembangkannya. Dan, membagikan hasil pekerjaan dengan penuh sukacita.

PS. Buat yang mau bertanya terkait bagaimana cara detail upload atau monetisasinya, silakan tulis pertanyaannya di kolom komentar.

*PPS. Distrokid adalah salah satu music aggregator yang saya gunakan. Jika Anda sign up dengan link Distrokid ini, Anda akan dapat diskon 7%.

**PPPS. Sebelum beralih ke Distrokid, TuneCore saya pakai. Namun, ternyata untuk musisi pemula, TuneCore agak sedikit mahal. Silakan bandingkan sendiri. Jika Anda sign up dengan link TuneCore ini, Anda akan dapat diskon 20%.

Sssst, inilah hasil saya ‘disawer’ oleh para pendengar. Mayan lah buat beli kembang gula. Hihi. Terima kasih banyak!

Dari Distrokid
Dari TuneCore

Kalideres, 31 Maret 2021

9 Kesalahan Terbesar yang Harus Dihindari di Umur 20-an

Beruntung sekali saya sempat meluncur ke sebuah YouTube channel dari seorang yang sangat inspiratif. Marina, namanya. Seorang Youtuber, entrepreneur, dan seniman dari Rusia yang saat ini tinggal di Silicon Valey. Saya rekomendasikan buat Anda semua karena karya-karya video di Youtube nya berkualitas dan patut diacungi jempol.

Salah satu topik yang dibahas olehnya adalah 9 kesalahan-kesalahan yang harus dihindari pada umur 20-an versinya. Apa saja kesalahan itu? Ini dia

  1. Lupa bermimpi besar dan jangka panjang.
  2. Tidak Bekerja keras, lupa karena masa umur 20-an itu merupakan masa yang paling produktif.
  3. Beranggapan bahwa yang diinginkan langsung terjadi saat itu juga.
  4. Membanding-bandingkan diri kita dengan kawan-kawan seangkatan.
  5. Berusaha dan kekeuh banget untuk ber-sahabat dengan semua orang.
  6. Tidak menjaga kesehatan.
  7. Tidak menjaga hubungan baik dengan keluarga.
  8. Beranggapan bahwa kamu terlalu tua untuk mulai belajar sesuatu yang baru.
  9. Lupa bahwa dunia itu sempit a.k.a. hanya selebar daun kelor.

Mau dengar detailnya, silakan play button video nya Marina, ya! Enjoy!