AKU MENDENGAR

Senja turun pelan di Kalideres saat saya melangkah masuk ke Gereja Paroki Santa Maria Imakulata. Jam menunjukkan pukul 18.00. Di dalam, suasana hening terasa hangat. Enam romo sudah duduk di tempatnya masing-masing, melayani umat yang datang dengan cerita hidupnya sendiri-sendiri.

Senja turun pelan saat saya melangkah masuk ke Gereja Santa Maria Imakulata Paroki Kalideres. Jam menunjukkan pukul 18.00. Di dalam, suasana hening terasa hangat. Enam romo sudah duduk di tempatnya masing-masing, melayani umat yang datang dengan cerita hidupnya sendiri-sendiri.

Saya datang sendirian. Istri masih di tempat kerja. Anak-anak tinggal di rumah bersama oma. Saya paham betul bahwa saya tidak bisa berlama-lama meninggalkan mereka.

Sebelum berangkat, saya berpesan kepada anak-anak, “Papa pergi ke gereja sekitar satu jam ya.” Sebuah kalimat sederhana, tapi cukup berarti bagi mereka yang menunggu.

Nomor antrean saya B15. Dalam hati saya sudah siap menunggu cukup lama. Namun tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya apakah saya bersedia bertukar nomor. Ia menawarkan B8. Saya mengangguk dan mengiayakan.

Hal kecil, tapi mengubah segalanya.

Waktu berjalan lebih cepat dari yang saya bayangkan. Tidak lama, saya dipanggil. Saya masuk, duduk, dan dalam keheningan itu, saya mulai membuka hati. Tidak banyak kata, tapi cukup untuk melepaskan dosa-dosa yang selama ini saya bawa untuk saya akui.

Selesai, saya duduk sejenak di bangku gereja. Menjalankan penitensi, saya berdoa pelan:

“Tuhan, ajari saya berubah, sedikit demi sedikit. Bukan hanya tahu, tapi benar-benar menjalani. Beri saya hati yang lebih sabar dan lebih tenang, terutama dalam hal-hal kecil setiap hari.”

Tidak lama. Tapi hati saya terasa penuh.

Ketika saya melangkah keluar, waktu belum pukul 19.00. Saya tersenyum kecil. Tepat seperti yang saya katakan di rumah—sekitar satu jam.

Di perjalanan pulang, saya sadar… mungkin ini terlihat sepele. Hanya tukar nomor antrean. Tapi bagi saya, ini seperti bisikan kecil dari Tuhan:

“Aku mendengar.”

Dan malam itu, saya pulang mengendarai sepeda listrik hijau muda menyusuri jalan-jalan perumahan Citra Garden serta gang-gang perumahan padat dengan hati yang lebih ringan—dan keyakinan yang sedikit lebih kuat.

Wanna support me?

Follow by Email
LinkedIn
Share