Saya adalah seorang ayah yang baru tiga bulan ini menyekolahkan anak saya secara formal. Anak saya masuk sekolah formal ketika kelas 5 SD. Sebelumnya, ia belajar melalui homeschooling.
Bukan homeschooling yang mengikuti lembaga tertentu, tetapi kami jalani secara mandiri melalui jalur PKBM.
Saat itu ritmenya cukup berbeda. Ada jadwal les, ada kegiatan Students Club secara online, dan ada tugas-tugas mandiri untuk literasi serta numerasi yang harus diselesaikan di rumah. Praktis, saya dan istri memegang tanggung jawab besar dalam mendampingi proses belajarnya sehari-hari.
Kami tahu apa yang sedang ia pelajari. Kami tahu tugas apa yang belum selesai. Kami juga cukup dekat dengan proses, kesulitan, dan perkembangan belajarnya.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, utamanya karena kebutuhan interaksi sosial anak yang sangat menggebu-gebu, akhirnya kami memutuskan memasukkannya ke sekolah formal.
Sejak awal saya sadar bahwa game-nya akan sangat berbeda.
Dalam homeschooling, orang tua hampir selalu berada di tengah proses pendampingan. Di sekolah formal, saya justru harus belajar mundur beberapa langkah. Saya perlu belajar membedakan: mana bagian saya sebagai orang tua, mana bagian guru, dan mana yang memang harus menjadi tanggung jawab anak.
Dan ternyata, proses menyesuaikan diri itu bukan hanya dialami anak.
Saya pun harus belajar.
Belakangan saya merasa, kadang bukan hanya anak yang “bersekolah”. Orang tua pun bisa ikut masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan sosial di sekolah. Untuk saya pribadi, hal seperti itu rasanya tidak perlu.
Bukan karena saya tidak peduli. Saya tetap datang ketika dipanggil sekolah. Kalau ada sesuatu yang menurut saya SANGAT penting, saya juga tidak ragu meminta waktu untuk bertemu langsung dengan guru, dengan sopan.
Tetapi saya tidak merasa harus hadir dalam setiap hal. Saya juga punya kehidupan lain yang harus dijalani, termasuk mengurus anak balita bungsu, yang tentu saja bukan pekerjaan ringan. Karena itu, saya memilih untuk hadir secukupnya.
Setiap hari saya tetap berusaha mengetahui bagaimana hari anak saya di sekolah. Biasanya kami mengobrol tentang apa yang ia lakukan, apa yang ia rasakan, apa yang menyenangkan, dan apa yang membuatnya tidak nyaman. Buku agenda sekolah juga menjadi salah satu cara saya mengikuti kesehariannya.
Dari situlah saya mulai melihat satu hal yang menarik. Ketika anak berselisih sedikit lalu bercerita kepada orang tuanya, kadang orang tua ikut panas. Ketika anak tidak diajak bermain, orang tua ikut tersinggung. Ketika ada anak lain yang lebih menonjol, kadang muncul rasa tidak nyaman.
Ada pula situasi ketika orang tua terlalu cepat menilai, terlalu cepat ikut campur, atau merasa harus langsung membela anak sebelum mengetahui cerita secara utuh. Padahal dunia anak sebenarnya sangat cair.
Hari ini mereka bertengkar, besok bisa bermain bersama lagi. Hari ini seorang anak menangis karena tidak diajak bermain. Minggu depan, mungkin ia sudah lupa kejadian itu.
Justru dari pengalaman-pengalaman kecil seperti itulah anak belajar menghadapi kehidupan: penolakan, rasa kecewa, konflik, iri hati, perbedaan pendapat, dan perbedaan karakter.
Kadang saya bertanya-tanya: Kalau setiap persoalan selalu diusik oleh orang tua, kapan anak mendapat kesempatan belajar menyelesaikannya sendiri? Tentu saja ini bukan berarti orang tua harus diam terhadap semua hal.
Ada saatnya kita memang perlu turun tangan. Ketika menyangkut keselamatan, kekerasan, perundungan yang berulang, atau ketika anak benar-benar tidak mampu menghadapi situasi yang dialaminya, orang tua harus hadir.
Tetapi tidak semua ketidaknyamanan adalah keadaan darurat. Kadang anak memang sedang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Dan kadang, itu adalah bagian dari proses belajar hidup.
Hal yang sama juga berlaku ketika seorang anak mempunyai kemampuan tertentu. Ada anak yang pandai matematika. Ada yang berbakat dalam musik, bahasa, olahraga, atau menggambar. Ada pula yang lebih percaya diri berbicara atau tampil di depan orang banyak. Kemampuan seperti itu terkadang bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman. Tetapi menurut saya, solusinya bukan dengan mengajarkan anak untuk mengecilkan dirinya sendiri.
Kita bisa mengajarkan dua hal sekaligus: “Kamu boleh bangga dengan kemampuanmu.” Dan, “Jangan membuat orang lain merasa kecil karena kemampuanmu.”
Bagi saya, itulah bentuk rendah hati yang sehat.
Rendah hati bukan berarti berpura-pura tidak bisa. Bukan pula menyembunyikan kemampuan supaya orang lain merasa lebih nyaman. Rendah hati adalah menyadari bahwa kita mempunyai kelebihan, sambil tetap memahami bahwa setiap orang juga mempunyai kelebihan, kekurangan, dan perjuangannya masing-masing.
Dan semakin lama berada dalam lingkungan sekolah formal, saya merasa ada satu pertanyaan yang sesekali perlu kita ajukan kepada diri sendiri sebagai orang tua:
“Ini benar-benar masalah anak saya, atau sebenarnya perasaan saya sebagai orang tua yang sedang terusik?” Karena terkadang yang paling sulit melepaskan masalah justru kita.
Anak sudah kembali bermain seperti biasa, sementara orang tuanya masih memikirkan kejadian tiga hari sebelumnya. Mungkin karena itulah saya semakin menyukai satu prinsip sederhana:
hadir secukupnya. Tetap peduli. Tetap memperhatikan. Tetap siap ketika anak membutuhkan kita.
Tetapi tidak harus masuk ke setiap konflik, setiap percakapan, setiap perbandingan, atau setiap dinamika di antara orang tua. Pada akhirnya, anak-anak pergi ke sekolah bukan hanya untuk belajar matematika, bahasa, sains, atau pelajaran lainnya.
Mereka juga sedang belajar hidup bersama orang lain. Belajar berteman. Belajar kecewa. Belajar berbeda pendapat. Belajar berdamai. Belajar gagal. Belajar bangkit.
Dan mungkin salah satu tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan mereka dua hal sekaligus: cukup perlindungan agar mereka merasa aman, dan cukup ruang agar mereka belajar berdiri sendiri.
Kemarin saya sempat bertanya kepada bapak saya, yang merupakan pensiunan guru: dulu, apakah pernah ada kasus orang tua murid saling bertengkar sampai melibatkan wali kelas?
Jawabannya: tidak pernah.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah dinamika seperti ini lebih banyak muncul sekarang karena pengaruh internet dan media sosial? Bisa jadi. Komunikasi memang menjadi jauh lebih mudah dan cepat, tetapi mungkin itu juga membuat emosi, asumsi, dan persoalan kecil lebih cepat membesar.

Leave a Reply