Rasa-rasanya Porseni DIA (Dini Anak) dan Rekat (Remaja Katolik) Gereja Santa Maria Imakulata Paroki Kalideres tahun 2026 ini ada yang berbeda.
Kirana, putri saya yang berusia sepuluh tahun, terlihat sangat bersemangat untuk mengikuti lomba. Ia membicarakannya berkali-kali dan segera menyebut beberapa cabang yang ingin diikutinya.
Namun, semangatnya berbicara jauh lebih besar daripada usaha nyatanya, pikir saya.
Saya sengaja tidak terlalu mendorongnya untuk berlatih. Saya juga tidak mau memaksanya. Alasannya sederhana: tahun ini ia baru saja memulai sekolah formal setelah cukup lama belajar dari rumah. Ada banyak hal baru yang perlu ia hadapi—jadwal sekolah, teman-teman baru, pelajaran, dan rutinitas yang berbeda.
Saya tidak ingin lomba gereja yang seharusnya menyenangkan justru menjadi beban tambahan.
Namun, sebagai ayah, terkadang saya tetap merasa geregetan.
Awalnya, Kirana ingin mengikuti lomba menyanyi dan modern dance. Namun, karena tidak ada teman yang bisa bergabung dalam modern dance, akhirnya ia memilih menyanyi dan melukis.
Saya tentu senang melihat semangatnya. Ia tidak takut mencoba. Ia juga selalu senang bertemu orang-orang baru.
Tetapi di balik rasa senang itu, muncul pula kekhawatiran.
Kirana terlihat tidak benar-benar mempersiapkan diri. Ketika saya mengingatkannya, ia menjawab dengan santai,
“Tidak apa-apa kalau tidak juara. Yang penting ikut berpartisipasi. Tahun lalu udah menang.”
Jawaban itu sebenarnya terdengar baik. Saya setuju bahwa mengikuti perlombaan tidak selalu harus tentang kemenangan.
Namun, saya juga ingin ia belajar bahwa berpartisipasi bukan berarti datang tanpa persiapan. Tidak harus menjadi juara, tetapi setidaknya kita berusaha memberikan yang terbaik.
Konflik kecilnya justru terjadi di rumah.
Mamanya, yang memang menyukai kegiatan melukis, awalnya sangat bersemangat membantu. Media lombanya cukup unik: bagian bawah sebuah galon air Le Minerale.
Saya, mama dan adiknya menyiapkan galon tersebut. Kami membersihkannya, lalu mengecat permukaannya dengan cat dasar putih. Semua dilakukan agar Kirana dapat berlatih menggunakan media yang mirip dengan media lomba sebenarnya.
Namun, galon itu hampir tidak disentuh Kirana.
Ia terlihat malas-malasan berlatih. H-1 ia baru menggambar desain di kertas, tetapi tidak benar-benar mencoba menyelesaikan konsep lukisannya.
Hal yang sama terjadi pada lomba menyanyi.
Lagu pengiringnya sudah dibuatkan. Ia sudah tahu lagu apa yang akan dibawakan. Namun, latihan yang serius baru dimulai sekitar dua hari sebelum perlombaan.
Saya beberapa kali ingin memarahinya.
Bukan karena saya menuntutnya menjadi juara. Saya hanya merasa sayang melihat kesempatan yang ada tidak disertai usaha terbaik.
Namun, di tengah kegelisahan itu, pikiran saya tiba-tiba kembali pada sebuah peristiwa tujuh tahun sebelumnya.
Saat itu, Kirana masih berusia sekitar tiga tahun.
Ia terbaring di ruang ICU sebuah rumah sakit.
Tubuh kecilnya mengalami reaksi alergi yang cukup berat. Napasnya sesak. Ia juga mengalami pneumonia. Di sekeliling tempat tidurnya terdapat berbagai alat medis. Kami hanya dapat menunggu sambil berharap kondisinya segera membaik.
Saat itu, saya tidak memikirkan piala.
Saya tidak memikirkan nilai sekolah, kemampuan bernyanyi, hasil lukisan, atau seberapa keras ia berlatih.
Saya hanya ingin ia bisa bernapas dengan baik.
Saya hanya ingin ia pulang dan melihatnya ceria lagi.
Sekarang, tujuh tahun kemudian, anak yang dahulu terbaring lemah di ICU itu berdiri di depan kami dan berkata bahwa ia ingin mengikuti lomba menyanyi dan melukis.
Ia ingin tampil.
Ia ingin bertemu orang lain.
Ia ingin menjadi bagian dari sebuah kegiatan.
Mungkin ia memang belum memahami arti persiapan dengan sungguh-sungguh. Mungkin ia masih perlu belajar bahwa semangat harus disertai ketekunan. Saya tetap perlu membimbingnya tentang hal itu.
Namun, saya juga diingatkan untuk tidak melihat semua hal hanya dari hasil akhirnya.
Terkadang, sebagai orang tua, kita begitu sibuk memikirkan apa yang masih kurang dari anak-anak kita sampai lupa mensyukuri seberapa jauh mereka telah bertumbuh.
Saya melihat latihan yang kurang.
Saya melihat galon yang tidak digunakan.
Saya melihat lagu yang baru dilatih tiga hari sebelum perlombaan.
Namun, jika saya melihatnya dari perjalanan hidupnya, ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Anak yang dahulu berjuang untuk bernapas kini berani bernyanyi di depan orang lain.
Anak yang dahulu terbaring di ICU kini memegang kuas dan bersiap mengikuti perlombaan.
Pada hari itu, saya menyadari bahwa kemenangan tidak selalu berbentuk piala.
Kadang-kadang, kemenangan adalah ketika seorang anak cukup sehat untuk hadir.
Cukup berani untuk mencoba.
Dan cukup bahagia untuk berkata,
“Yang penting aku ikut berpartisipasi.”
Refleksi
Orang tua sering melihat potensi anak lebih jauh daripada yang dapat dilihat oleh anak itu sendiri.
Karena itulah, kita mudah merasa kecewa ketika mereka tidak berlatih dengan serius, tidak menggunakan kesempatan dengan baik, atau terlihat tidak berusaha semaksimal yang kita harapkan.
Kekhawatiran itu tidak selalu salah.
Anak-anak memang perlu belajar bahwa keinginan membutuhkan usaha. Keberanian untuk ikut perlu disertai tanggung jawab untuk mempersiapkan diri. Kita tidak harus menuntut kemenangan, tetapi kita dapat mengajarkan kesungguhan.
Namun, di saat yang sama, tidak semua pengalaman anak harus segera diubah menjadi pelajaran tentang prestasi.
Ada saatnya kita perlu berhenti sejenak dan melihat perjalanan mereka secara lebih utuh.
Apa yang hari ini terlihat biasa mungkin dahulu pernah menjadi sesuatu yang kita doakan dengan sungguh-sungguh.
Kehidupannya sendiri sudah menyimpan begitu banyak kemenangan.
Tugas orang tua bukan hanya mendorong anak agar terus menjadi lebih baik.
Tugas kita juga mengingatkan diri sendiri untuk bersyukur atas keberadaan mereka hari ini.
Kita tetap mengajarkan usaha.
Tetapi kita tidak membiarkan ambisi membuat kita lupa bahwa sebelum anak-anak menghasilkan sesuatu, mereka sendiri adalah anugerah.
Pertanyaan untuk Orang Tua
Apakah ada hal yang saat ini membuat kita kecewa terhadap usaha anak, padahal dahulu keberadaan dan kesehatannya pernah menjadi doa terbesar kita?
Ketika anak mengikuti sebuah kegiatan, apakah kita lebih sering melihat hasil yang belum dicapai atau keberanian yang sudah ia tunjukkan?
Bagaimana kita dapat mengajarkan kesungguhan tanpa membuat anak merasa bahwa kasih dan kebanggaan kita bergantung pada kemenangan?
Kemenangan kecil apa dalam perjalanan hidup anak yang mungkin selama ini kita anggap biasa?