{"id":3895,"date":"2026-09-09T11:56:13","date_gmt":"2026-09-09T04:56:13","guid":{"rendered":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/?p=3895"},"modified":"2026-09-09T12:17:53","modified_gmt":"2026-09-09T05:17:53","slug":"lima-hari-terakhir-bersama-ibu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/serba-serbi\/life-and-spiritual\/lima-hari-terakhir-bersama-ibu\/","title":{"rendered":"Lima Hari Terakhir Bersama Ibu"},"content":{"rendered":"\n<p>Hari ini, 9 September 2026. Tujuh puluh enam tahun lalu, Ibu saya lahir.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini, di surga Ibu tidak perlu merayakan ulang tahun lagi. Tidak ada lagi ucapan panjang umur. Tidak ada lagi doa sehat selalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Justru yang saya imani, sekarang Ibulah yang menjadi pendoa bagi kami yang masih berziarah di bumi. Bumi yang pernah menjadi tempat beliau hidup, berkarya, membesarkan anak-anak, dan berbagi cinta.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang tersisa bagi kami adalah kenangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan dari begitu banyak kenangan bersama Ibu, ada lima hari yang rasanya akan tinggal lebih lama daripada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lima hari terakhir bersama Ibu.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya ingin menuliskannya. Bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi juga untuk siapa saja yang pernah mengenalnya, pernah bertemu dengannya, atau pernah menjadi bagian dari hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena setelah seseorang pergi, kadang justru hal-hal yang paling sederhana yang tidak ingin kita lupakan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">16 Januari \u2014 Pulang ke Lampung<\/h2>\n\n\n\n<p>Sore itu saya, istri, dan kedua anak saya sampai di Lampung. Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul sembilan pagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika melihat Ibu, kami mulai merasa khawatir. Kondisinya memang tidak seperti biasanya, tetapi belum sampai membuat kami berpikir terlalu jauh.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin begitulah cara kita menghadapi orang tua yang sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita masih membawa keyakinan sederhana: nanti diperiksa dokter, minum obat, istirahat, lalu membaik.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari itu Ibu meminta perkedel.<\/p>\n\n\n\n<p>Permintaan yang sangat sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami mencoba mencarinya, tetapi tidak mendapatkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat itu perkedel hanyalah perkedel. Tidak lebih.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada sesuatu yang terasa dramatis hari itu. Tidak ada tanda yang memberi tahu kami bahwa sebuah hitungan mundur sedang dimulai.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari itu hanyalah hari ketika seorang anak pulang dan mendapati ibunya sedang sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Baru setelah semuanya berlalu, saya menyadari:<\/p>\n\n\n\n<p>itulah hari pertama dari lima hari terakhir saya bersama Ibu.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">17 Januari \u2014 Dari Puskesmas ke Rumah Sakit<\/h2>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, kondisi Ibu membuat kami merasa pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami membawanya ke Puskesmas untuk meminta rujukan. Rencana awalnya adalah menuju RS Bumi Medika dan bertemu dokter penyakit dalam. Namun ketika sampai, jam praktik sudah selesai.<\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan akhirnya berlanjut ke RS Hermina.<\/p>\n\n\n\n<p>Dokter menyarankan Ibu dirawat agar kondisinya bisa diperiksa lebih lengkap.<\/p>\n\n\n\n<p>Tes darah dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Rontgen.<\/p>\n\n\n\n<p>EKG.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami menunggu hasil sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi pada tubuh Ibu.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumah sakit selalu punya cara aneh mengubah waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Menunggu dokter beberapa menit bisa terasa sangat lama. Sebaliknya, satu hari bisa hilang begitu saja di antara pemeriksaan, obat, percakapan dengan perawat, dan tidur yang tidak pernah benar-benar nyenyak.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi saat itu kami masih berharap semuanya hanya sementara.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu Ibu ditemani Bulik Hapsari, tetangga dekat yang sudah saya kenal sejak kecil. Saya pulang untuk mengurus anak-anak dan beristirahat di rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya masih berpikir besok akan ada kabar yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">18 Januari \u2014 Ada Banyak Doa Malam Itu<\/h2>\n\n\n\n<p>Sejak malam sebelumnya, Ibu mengeluh sulit buang angin dan buang air kecil. Ia juga sempat berkeringat dingin.<\/p>\n\n\n\n<p>Tekanan darahnya 156. Gula darah sewaktunya 224.<\/p>\n\n\n\n<p>Angka-angka mulai masuk dalam percakapan kami.<\/p>\n\n\n\n<p>Tekanan darah.<\/p>\n\n\n\n<p>Gula darah.<\/p>\n\n\n\n<p>Obat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dokter.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil pemeriksaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti itulah kami mencoba memahami keadaan: melalui sesuatu yang bisa diukur.<\/p>\n\n\n\n<p>Sore hari kami berangkat bersama Aulia, yang akan menggantikan Bulik Hapsari menjaga Ibu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum ke rumah sakit, saya bersama keluarga pergi ke Katedral untuk mengikuti misa dan berdoa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada banyak doa malam itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Doa agar Ibu sembuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Doa agar kami diberi kekuatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan mungkin juga doa-doa lain yang tidak sempat saya susun menjadi kalimat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pikiran saya bercabang ke mana-mana.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika akhirnya kami sampai di rumah sekitar pukul setengah sepuluh malam, tetangga beda satu rumah sedang mengadakan hajatan sunatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Musik dari beberapa speaker masih terdengar keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Jedhag-jedhug.<\/p>\n\n\n\n<p>Jedhag-jedhug.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam keadaan biasa, mungkin saya tidak terlalu memikirkannya. Tetapi malam itu suara tersebut terasa seperti menghantam dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya ingin sekali berteriak kepada speaker-speaker itu,<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBisa diam, nggak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Di luar rumah, kehidupan berjalan seperti biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada hajatan. Ada musik. Ada orang bergembira.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara di kepala saya hanya ada rumah sakit dan Ibu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dunia memang tidak berhenti hanya karena kita sedang cemas.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">19 Januari \u2014 Perkedel Lagi<\/h2>\n\n\n\n<p>Hari berikutnya Ibu kembali meminta perkedel.<\/p>\n\n\n\n<p>Kali ini ditambah tahu bacem dan makanan yang digoreng.<\/p>\n\n\n\n<p>Aulia berniat mencarikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya mencegah.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan karena saya tidak ingin memberikan apa yang Ibu mau. Justru karena saya merasa sedang menjaganya.<\/p>\n\n\n\n<p>Gula darahnya perlu dikontrol. Makanan rumah sakit rasanya lebih aman. Dokter tentu lebih tahu apa yang sebaiknya dimakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat merawat orang tua yang sakit, saya rupanya mulai berpikir dalam bahasa aturan.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang ini boleh.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang itu jangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Obat harus diminum.<\/p>\n\n\n\n<p>Gula harus dijaga.<\/p>\n\n\n\n<p>Dokter harus didengar.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat itu saya merasa sedang melakukan hal yang benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya tidak tahu bahwa beberapa waktu kemudian saya akan mengingat permintaan perkedel itu dengan cara yang sama sekali berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan sebagai persoalan makanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan tentang boleh atau tidak boleh makan gorengan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melainkan sebagai suara Ibu yang saat itu masih bisa meminta sesuatu kepada saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sore hari saya kembali ke rumah sakit seorang diri. Sekitar pukul tiga, saya menunggu dokter melakukan visit.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu datang kabar yang membuat hati kami sedikit lega.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu boleh pulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada beberapa macam obat yang harus dibawa. Salah satunya insulin.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya merasa setidaknya satu tahap telah berhasil dilewati.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau seseorang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, bukankah itu berarti kondisinya sudah cukup baik?<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar pukul delapan malam kami bertiga pulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perjalanan saya sempat membeli pizza, titipan Gesang.<\/p>\n\n\n\n<p>Detail kecil yang tidak ada hubungannya dengan sakit Ibu. Tetapi mungkin justru begitulah kehidupan bekerja. Di tengah kecemasan, tetap ada anak yang ingin makan pizza.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesampainya di rumah, kehidupan seperti mencoba kembali menjadi normal.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada obat yang harus diminum.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada insulin yang harus disuntikkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada percakapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada orang-orang yang mulai beristirahat.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu Ibu minum obatnya dan mendapatkan suntikan insulin.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami tidak tahu bahwa itu adalah malam terakhirnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">20 Januari \u2014 Handuk Putih<\/h2>\n\n\n\n<p>Pagi datang seperti pagi-pagi lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar pukul enam, Bu Endang dan Bu Jumilah datang menengok Ibu. Mereka tetangga kami sekaligus teman seprofesi Ibu sebagai guru.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu masih bisa mengobrol.<\/p>\n\n\n\n<p>Percakapannya nyambung.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika ditanya kapan harus kontrol kembali, ia masih bisa menjawab dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada sesuatu yang membuat saya berpikir bahwa dalam waktu sekitar setengah jam semuanya akan berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekitar pukul 06.30, Ibu kembali berkeringat dingin.<\/p>\n\n\n\n<p>Tangannya memegang-megang dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Napasnya terengah-engah.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu Ibu meminta sebuah handuk kecil berwarna putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Bapak mencarinya di jemuran belakang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ketemu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu masih ingat di mana handuk itu berada.<\/p>\n\n\n\n<p>Di lemari putih, dekat tempat ia duduk.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya menuntunnya berjalan menuju lemari tersebut. Istri saya sudah membukakan pintunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, di depan lemari itu, Ibu jatuh bersujud.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya segera menggendongnya kembali ke tempat ia berbaring.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak saat itu Ibu tidak sadar lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak bisa diajak bicara.<\/p>\n\n\n\n<p>Permintaan terakhir yang saya ingat darinya begitu sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan sesuatu yang besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan pesan panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan nasihat terakhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya sebuah handuk kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Handuk putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada musik yang mengiringi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada kalimat besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada tanda yang mengatakan bahwa sebuah kehidupan sedang mencapai batasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya pagi biasa di sebuah rumah di Lampung.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang ibu yang berkeringat dingin.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah keluarga yang mencoba menolong.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah handuk yang dicari.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan waktu yang terus berjalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari yang saya kira akan menjadi hari pertama Ibu beristirahat setelah pulang dari rumah sakit ternyata menjadi hari terakhirnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Setelah Lima Hari Itu<\/h2>\n\n\n\n<p>Setelah seseorang meninggal, ingatan rupanya mempunyai caranya sendiri dalam memilih apa yang hendak disimpan.<\/p>\n\n\n\n<p>Anehnya, ia tidak selalu memilih peristiwa-peristiwa besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya justru mengingat perkedel yang tidak sempat saya belikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahu bacem yang diminta Ibu.<\/p>\n\n\n\n<p>Obat-obatan yang harus diminumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Insulin.<\/p>\n\n\n\n<p>Jam ketika kami pulang dari rumah sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Percakapannya dengan dua orang tetangga pagi itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan sebuah handuk putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal-hal yang ketika terjadi tampak begitu biasa, setelah kehilangan berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga.<\/p>\n\n\n\n<p>Kadang saya bertanya kepada diri sendiri:<\/p>\n\n\n\n<p>Seandainya saat itu saya tahu bahwa waktu kami tinggal lima hari, apakah saya akan melakukan sesuatu secara berbeda?<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya akan membelikan perkedel itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya akan duduk lebih lama di samping Ibu.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya akan lebih banyak bertanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin saya akan berhenti sebentar memikirkan dokter, obat, gula darah, rumah sakit, dan segala sesuatu yang harus dibereskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu hanya menjadi seorang anak yang duduk menemani ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi hidup tidak pernah memberi kita informasi seperti itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak pernah ada pemberitahuan:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ini percakapan terakhir kalian.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Ini makan malam terakhir.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Ini permintaan terakhir.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Besok semuanya akan berbeda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kita baru mengetahui bahwa sebuah hari adalah hari terakhir setelah hari itu berlalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, lima hari terakhir bersama Ibu tidak saya ingat sebagai lima hari yang penuh peristiwa besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya mengingatnya melalui perkara-perkara kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkedel.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumah sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Doa.<\/p>\n\n\n\n<p>Obat.<\/p>\n\n\n\n<p>Insulin.<\/p>\n\n\n\n<p>Handuk putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal-hal biasa yang saat itu tidak pernah saya duga akan menjadi kenangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan mungkin begitulah cinta bekerja setelah seseorang tidak lagi bersama kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia tidak selalu tinggal dalam peristiwa-peristiwa besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kadang ia bersembunyi dalam makanan yang pernah diminta.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam percakapan singkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam obat yang pernah kita siapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam benda kecil yang pernah kita carikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah handuk putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu setelah orang itu pergi, kita baru menyadari:<\/p>\n\n\n\n<p>hal-hal yang dahulu terasa biasa itulah yang ternyata paling kita rindukan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari ini, 9 September 2026. Tujuh puluh enam tahun lalu, Ibu saya lahir. Saat ini, di surga, ibu tidak perlu merayakan ulang tahun lagi. Tidak ada lagi ucapan panjang umur. Tidak ada lagi doa sehat selalu. <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3887,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[30,1469,472,1468,471,189,716],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3895"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3895"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3895\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3903,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3895\/revisions\/3903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arikuncoro.xyz\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}